Agar Anak Terbuka pada Orangtua

0
124

Menginjak usia praremaja, anak biasanya cenderung lebih pendiam. Yang tadinya suka menceritakan kegiatannya seharian, mungkin sepulang dari sekolah atau setelah bermain dengan temannya, sudah jarang bercerita lagi. Padahal, jika sang anak terbuka kepada teman atau orang lain, sangat berbahaya.

Ada banyak faktor yang menyebabkan anak tidak lagi terbuka kepada orangtua di usianya yang menjelang remaja.  Retno Riani, M.Psi seorang psikolog menjelaskan, bahwa ketika menginjak usia remaja, anak-anak mulai mengenal dunia luar dan keluarga tidak lagi menjadi faktor utama dan prioritas dalam hidup anak.

Anna Surti Ariani S.Psi, MSi juga menuliskan di health.detik.com bahwa faktor lain yang bisa menyebabkan anak menjadi tidak terbuka adalah karena orangtuanya tidak menjadi active listener yang baik. “Mendengarkan dengan benar-benar menyimak. Nah, kalau active listening kita menunjukkan posisi tubuh yang siap, mengarah ke yang diajak ngobrol. Kontak mata penting, karena cenderung lebih membuka kesempatan dia bicara dan menunjukkan kita serius mendengarkan,” tutur psikolog yang akrab disapa Nina ini.

Dikutip dari laman parenting.com ada beberapa hal yang dapat membantu agar anak kembali terbuka kepada orangtua, berikut ulasannya.

Ajak Anak Ngobrol Secara Teratur 

Dengan begitu, ia akan merasa selalu punya waktu untuk berkomunikasi dengan Anda. Ciptakan rutinitas ngobrol di sore hari, saat berjalan-jalan di taman, atau setelah makan malam sambil nonton televisi.

Siapkan waktu khusus untuk berbincang dan mendengarkan cerita anak. Dengarkan apapun yang disampaikan oleh anak, meskipun ceritanya sering tidak pas dengan kita, tak jarang mungkin juga menyulut emosi orangtua. Pembicaraan dengan tema apapun merupakan kesempatan untuk menanamkan nilai positif kepadanya.

Saat Sedang dalam Perjalanan,

Saat mengantar anak ke sekolah, atau saat akan bepergian, ajaklah anak berbicara. Ajukan pertanyaan yang spesifik namun terbuka, seperti,  “Apa saja kejadian hari ini yang ingin kamu ceritakan pada Bunda?” atau  “Kenapa, sih, kamu cocok dengan temanmu si Ahmad, apa yang membuatmu cocok dengannya?”

Jika ia hanya memberi tatapan kosong pada Anda, tunggulah sejenak. Anak biasanya akan berbicara setelah diberi ruang bernapas sejenak.

Bermain Membuat Anak Merasa Nyaman 

Bermain bersamanya membuatnya nyaman. Ia akan merasa bahwa orangtuanya adalah orang yang asyik dan seru. Cobalah mengikuti apa yang ia senangi. Misalnya, jika ia suka sepak bola, sempatkanlah waktu khusus untuk bermain dengannya. Atau sebaliknya, jika orangtua punya hobi tertentu, ajaklah ananda terlibat di dalamnya, untuk sama-sama menyenangi hal yang sama. Pasti sangat menyenangkan. Misalnya jika orangtua punya hobi berpetualang, mendaki gunung, rasanya asyik jika melibatkan anak.

Dengan begitu, ia akan merasa nyaman dengan orangtuanya. Ia pun akan merasa aman bercerita dengan orangtuanya.

Ajukan Pertanyaan untuk Anak

Bukan sekadar basa basi tentunya, tapi untuk menunjukkan pada dirinya cara berkomunikasi dua arah yang baik. Dan tentu saja, sebaiknya kita betul-betul memilih bagaimana cara kita berkomunikasi atau bertanya kepada anak. Jangan membuat anak terintrogasi dengan berbagai pertanyaan kita, sebaliknya, pertanyaan kita dalam rangka member perhatian dan menawarkan solusi dari berbagai permasalahannya.

Sesekali, minta anak untuk bertanya tentang hal-hal yang terjadi pada Anda karena itu akan mengajarkannya berempati dan membuatnya lebih dekat pada Anda.

Menahan Diri Saat Anak Berbuat Salah 

Kadangkala anak melakukan kesalahan. Saat inilah, Anda sebagai orangtua harus belajar menahan diri untuk mengomentari dan langsung menyalahkannya. Pada dasarnya, anak tahu saat ia melakukan kesalahan. Jangan terlalu reaktif. Ajak anak berdiskusi tentang konsekuensi dari masalah yang ia lakukan. Dengan begitu, ia akan belajar dari berbagai kesalahan yang ada. Ia juga akan belajar menerima risiko dari kesalahannya, dan ia akan belajar memperbaikinya.

Namun, jika Anda reaktif dan menghakiminya, akan membuatnya justru menutup diri dan menjauh dari orangtuanya.

Nasihati Tanpa Terdengar Memarahi

Siapapun tentu tidak nyaman saat dimarahi. Meski sudah melakukan kesalahan, cobalah menahan amarah. Tenangkan diri terlebih dahulu jika Anda akan marah. Islam mengajarkan berbagai cara untuk menahan marah bukan, misalnya dengan duduk, berbaring atau mengambil air wudhu. Saat sudah tenang, barulah mencoba berkomunikasi dengan anak. Sampaikan pertanyaan, mengapa dia berbuat begitu dan dengarkan baik-baik apa alasannya.

Karena berkomunikasi saat marah, akan membuat semuanya semakin beratakan. Anak semakin menjauhi orangtua yang membuat komunikasi semakin sulit. Jika Anda serinng marah, anak akan belajar menjadi pemarah dari Anda.

Sempatkan Menghubungi Saat Jauh

Menghubungi saat ia jauh, misalnya saat anak ke luar kota karena tugas sekolahnya, akan member kesan Anda sangat memperhatikannya. Percakapan singkat ini akan memberi Anda gambaran singkat tentang suasana hatinya saat itu. Selama di jalan, Anda dapat mempersiapkan bagaimana akan menghadapi anak Anda setibanya di rumah nanti. Sambutan yang menarik, tentu saja akan menyenangkan.(Muf)

LEAVE A REPLY