Awas, Berikut Dampak Memaki Pada Buah Hati

0
173

Anak-anak memang tak jarang membuat ulah. Dalam kondisi capek, orangtuapun mudah terpancing amarah. Tanpa sadar, ulah sang anak terbalas dengan hardikan bahkan umpatan. Namun tahukah kita, hal itu akan berdampak buruk pada sang anak?

Psikolog anak dan remaja, Irma Gustiana Andriana mengatakan bahwa sebaiknya orangtua meninggalkan pola asuh yang cenderung keras kepada putra-putrinya. Sebab, hal demikian menyebabkan terputusnya sel-sel otak anak.

Menurut beberapa penelitian empirik, bentakan atau makian yang diterima anak sangat berpengaruh pada sel-sel otaknya.

Dalam tribunnews.com, Irma mengatakan pada usia emas atau di bawah lima tahun, perkembangan sel-sel otak sedang berkembang dengan pesat. Antar simpul saling terhubung untuk membangun kepintarannya. Namun jika anak sering menerima bentakan dan makian, maka sangat tidak menutup kemungkinan sel-sel otak pada anak akan rusak.

Lebih lanjut anak yang seringkali mendapatkan perlakuan kasar dengan makian yang ditujukan kepada sang anak, akhirnya membuat sang anak merekam makian yang diucapkan orangtua secara berulang terhadap dirinya.

Dari rekaman di dalam otak sang anak tersebut, akhirnya membentuk sebuah keyakinan dalam alam bawah sadarnya bahwa ia memang anak seperti apa yang orangtua makikan kepadanya. Makian “bodoh”, “anak tidak berguna”, “anak nakal”, “anak malas”, dan seluruh ungkapan buruk yang terkadang menyertainya berpotensi menjadi kenyataan dalam kehidupannya.

Anak Jadi Takut dengan Figur Orangtua

Melansir ungkapan David Wolfe dalam liputan6.com, saat orangtua berteriak hal ini dapat membuat anak menjadi takut. Apalagi jika ditambah dengan cemoohan yang ditunjukkan kepada sang anak. Saat orangtua berteriak, hal ini dapat memicu reaksi fight or flight dalam otak anak.

Reaksi itu secara psikologis dikenal saat dihadapkan dengan kondisi atau situasi yang berbahaya. Dalam reaksi ini yang bisa kita lakukan ialah mengambil tindakan (fight) atau berlari (flight). Hal ini justru dapat membuat anak berperilaku menjadi lebih buruk.

Dampak jangka panjangnya, anak juga bisa menjadi trauma. Bahkan efek dari beteriak dapat lebih lebih parah dari memukul. Padahal anak akan lebih bersikap tenang dan baik jika orangtua menunjukan tingkah laku yang tenang.

Psikolog klinis Baby Jim Aditya mengatakan dalam laman detikhealth, jika memang ingin menjadi orangtua tegas, tidak harus dengan marah-marah dan membentak. Tegas bisa dilakukan dengan mengingatkan tanpa harus marah.

Tegas itu harus, tetapi bukan berarti mencampurkan penghinaan didalamnya. Terlebih, Islam mengajarkan kepada kita bahwa ucapan adalah doa. Karenanya, sebaiknya orangtua ungkapkan perkataan yang baik dan positif kepada anak demi tumbuhkembang yang baik. (Din)

LEAVE A REPLY