Begini Cara Mendidik Ananda yang Autis

0
142

Marah, kecewa mungkin dirasakan oleh orangtua jika mengetahui Ananda adalah pengidap autisme. Meski demikian, tak ada pilihan lain selain orangtua harus ikhlas akan kondisi Ananda yang sedemikian rupa agar Ananda dapat berkembang layaknya teman-teman sebayanya.

Menurut dr. Rudy Sutadi seorang Konsultan Ahli Autisme ABA (Applied Behaviour Analysis), Autisme adalah gangguan perkembangan neurobiologi yang berat pada anak sehingga menimbulkan masalah pada anak untuk berkomunikasi dan berelasi dengan lingkungannya.

Oleh karenanya, agar Ananda dapat berkomunikasi dan berelasi dengan lingkungan sekitarnya orangtua perlu belajar tentang keunikan dan cara mendidik yang tepat bagi Ananda.

Dibeberkan oleh Lusia Handoko, orangtua dari anak pengidap autis. Ia memberi beberapa langkah mendidik Ananda yang autis seperti dikutip di laman sahabatkeluarga.kemendikbud.go.id sebagai berikut :

Terima Kondisi

Menerima sesuatu yang tak diinginkan memang tak semudah membalik telapak tangan. Ia juga mengalami hal tersebut ketika mendidik Ananda. “Sehabis tes berupa daftar pertanyaan tentang perilaku anak, dokter saya bilang anak saya autisme. Saya tanya lalu bagaimana, sang dokter bilang saya harus menerima terlebih dahulu baru akan dijelaskan.” ujar Lusiana.

Sabar

Makna dari menerima kondisi tersebut dirasakan saat Ananda beranjak dewasa. Ananda mulai asik dengan dunianya sendiri apalagi dengan bermacam-macam terapi yang dilakukan untuk Ananda. Semakin dewasa Ananda, orangtua harus semakin bersabar. “Sebenarnya kendala yang besar itu datang dari diri sendiri. Capek memang, tapi hadapi kenyataan yang ada. Saya juga tersemangati begitu melihat ada teman yang lebih keras usahanya mengurus anak autis dibanding saya,” kata Lusi.

Saling Berbagi

Orangtua harus terbuka kepada orang-orang. Ini ditujukan agar orangtua yang sama-sama memiliki Ananda pengidap autis saling bertukar informasi untuk menghadapi dan membesarkan Ananda. Selain itu, orangtua juga dapat saling menguatkan serta mencegah kesalahan yang pernah dilakukan orang lain. “Jangan malu untuk membuka diri kepada orang lain. Kesediaan untuk terbuka itu justru dapat mendatangkan berbagai info yang bisa berguna ketika mengurus anak,” ujar Lusi.

Pilah Informasi

Dalam mendidik Ananda, orangtua perlu belajar melalui berbagai media. Televisi, radio, artikel situs, dan lain-lain. Namun, orangtua juga perlu menyaring informasi mana yang tepat untuk diterapkan dalam mendidik Ananda. Jangan sampai termakan oleh isu-isu yang menjebak orangtua dalam pemikiran sempit. “Semua informasi yang saya dapatkan saya kumpulkan dan saya pilih. Pokoknya saya mau yang logis, kisah suksesnya juga lebih banyak. Lalu saya konsultasikan lagi dengan dokter,” akunya Lusi.

Jangan Lupa Istirahat

Dengan berbagai macam keasyikan Ananda akan dunianya sendiri, orangtua mungkin merasa kelelahan. Oleh karenanya, orangtua perlu untuk beristirahat agar bisa mengendalikan diri dan bertindak lebih sabar. Selain berteman dengan orangtua yang memiliki Ananda yang autis, orangtua juga perlu berteman dengan orangtua yang tidak memiliki Ananda yang autis agar ketika beristirahat dari kesibukan mendidik Ananda dan kembali ke rumah, orangtua kembali segar dan bersiap kembali mendidik Ananda seperti yang dijelaskan oleh Lusi. Jika tidak, akan berdampak pada orangtua yang stress dan hilang kesabaran. Jika sudah begitu tentu akan berdampak pada perkembangan Ananda.

Dengan hal-hal tadi, bukan tidak mungkin Ananda akan dapat berkomunikasi dengan baik dan berelasi dengan lingkungannya. Karena, anak autis membutuhkan komunikasi yang berempati. Dimana, komunikasi tersebut harus dimulai dari orangtua. (ipw)

LEAVE A REPLY