Begini Dampak Broken Home pada Anak

0
152

Kasus perceraian di Indonesia sebanyak 350 ribu di 2016 lalu. Angka ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Dari perceraian itu, anak selalu menjadi korbannya. Berbagai gangguan psikologis akan menghantuinya.

Angka dari banyaknya kasus perceraian itu disampaikan oleh Dirjen Bimas Islam Kemenag, Prof  Muhammadiyah Amin yang disampaikan kepada republika.co.id.

Broken home menjadi salah satu ancaman terbesar dalam keluarga. Tak hanya memberi dampak pada pasangan yang berpisah, namun juga berdampak luar biasa pada buah hati yang telah hadir dalam keluarga tersebut.

Setiap manusia yang terlahir ke dunia pasti mempunyai  impian memiliki keluarga yang harmonis dan bahagia.  Keluarga adalah hal yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan setiap individu, bahkan masa depan seorang anak bergantung dari baik tidaknya hubungan sebuah keluarga. Namun adakalanya keluarga mengalami perpecahan yang berakibat perceraian, inilah yang dinamakan “Broken Home”.

Broken Home atau keluarga tak utuh adalah kondisi dimana keluarga mengalami perpecahan atau adanya kesenjangan dalam rumah tangga, entah itu berawal dari cekcok kedua orangtua, perselingkuhan, bahkan perkelahian yang berakibat putusnya tali yang dirangkai keluarga atau perceraian.

Dilansir dari laman idntimes.com, dampak broken home yang biasanya berimbas kepada individu yang berpisah adalah merasakan kehilangan, kehilangan harapan bahkan ada merasa terpuruk. Namun, tak hanya sampai di situ, perpisahan antara dua orangtua juga memberi dampak yang luar biasa terhadap anak.

Dalam kondisi ini, terutama bagi si anak seakan melihat dunia runtuh tepat di hadapannya, karena hilangnya cinta dan kasih sayang kedua orangtuanya hingga mengakibatkan trauma psikologi yang cukup fatal dan membekas dalam dirinya. Betapa tidak, Ia merasa bahwa apa yang selama ini dimiliki setiap individu begitu saja hilang dalam sekejap dan sulit untuk disembuhkan.

Kurangnya Kasih Sayang

Dosenpsikologi.com menuliskan, saat kondisi suami istri tidak lagi dalam hubungan yang harmonis, maka tentu saja akan memunculkan rasa egois dalam diri masing-masing yang lebih diutamakan. Jika tidak segera diatasi maka tentu saja anak menjadi korban yang paling utama. Anak akan mengalami kurang kasih sayang karena perhatian orang tua yang berkurang satu sama lainnya.

Rentan Mengalami Gangguan Psikis

Akibat kondisinya yang selalu berada di dalam tekanan, maka akan membuat pengaruh yang cukup besar dalam kondisi anak. Sehingga tak heran jika anak-anak yang mengalami broken home akan kerap mengalami gangguan-gangguan psikologis, mulai dari rasa ketakutan, kecemasan, selalu merasa serba salah, selalu dirundung sedih, menyendiri, dan lainnya. Jika dibiarkan terus menerus maka gangguan ini akan berdampak pada lingkungan sosial anak.

Membenci Kedua Orangtuanya

Karena kondisi mental yang masih sangat labil, dapat membuat anak-anak yang berada di dalam lingkungan broken home dapat membenci kedua orang tuanya. Mereka belum memahami tentang hal yang terjadi di dalam keluarga, bahkan belum dapat menerima kondisi yang sebenarnya terjadi. Sehingga mereka akan menganggap jika semua hal yang terjadi merupakan kesalahan dari salah satu ataupun kedua orang tuanya.

Tidak Mudah Bergaul

Banyak kasus dalam broken home membuat anak menjadi cenderung menutup diri dengan lingkungannya sehingga membuat anak akan menarik diri dari lingkungan pergaulan dikarenakan rasa rendah diri yang dimilikinya. Karena kurangnya perhatian orang tua, maka menyebabkan anak tidak terbiasa untuk berbagi cerita ataupun mengekspos diirnya dengan orang lain. Akibatnya anak akan kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya.(Muf)

 

 

LEAVE A REPLY