Begini Shalat ‘Iedul Fitri Sesuai Syar’i

0
125

Dalam waktu dekat ini Umat Islam akan menjalankan sholat ‘Iedhul Fitri 1439H, sebagai tanda berawalnya bulan Syawal yang mengganti Bulan Ramadhan.  Begitu pentingnya sholat ied ini sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta para wanita keluar meskipun dalam kondisi haid. Berikut ini merupakan tuntunan shalat ‘iedul fitri.

Sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ummu ‘Athiyah, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami pada saat shalat ‘ied (‘Iedul Fithri ataupun ‘Iedul Adha) agar mengeluarkan para gadis (yang baru beranjak dewasa) dan wanita yang dipingit, begitu pula wanita yang sedang haid. Namun beliau memerintahkan pada wanita yang sedang haid untuk menjauhi tempat shalat.”

Pelaksanaan Shalat ‘Ied

Dalam penentuan waktu sholat ‘ied, ulama mahdzab tidak ada perbedaan pendapat bahwa waktu shalat ‘eid dimulai dari matahari setinggi tombak sampai waktu zawal (matahari bergeser ke barat).

Terkait dengan waktu pengerjaannya, ada perbedaan antara sholat ‘Iedhul Adha dan ‘Iedhul Fitri. Sholat ‘Idul Adha dikerjakan lebih awal agar orang-orang dapat segera menyembelih qurbannya. Sedangkan shalat ‘Iedul Fitri agak diundur bertujuan agar kaum muslimin masih punya kesempatan untuk menunaikan zakat fitri.

Mengenai tempat pelaksanaan sholat ‘ied lebih utama (lebih afdhol) dilakukan di tanah lapang, kecuali jika ada udzur seperti hujan.

Abu Sa’id Al Khudri mengatakan, “Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar pada hari raya ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adha menuju tanah lapang.”

Tata Cara Shalat ‘Ied

Jumlah raka’at shalat Idul Fitri adalah dua raka’at. Adapun tata caranya adalah sebagai berikut.

Pertama, memulai dengan takbiratul ihrom, sebagaimana shalat-shalat lainnya. Kemudian bertakbir (takbir zawa-id/tambahan) sebanyak tujuh kali takbir -selain takbiratul ihrom- sebelum memulai membaca Al Fatihah. Boleh mengangkat tangan ketika takbir-takbir tersebut sebagaimana yang dicontohkan oleh Ibnu ‘Umar.

Ibnul Qayyim mengatakan, “Ibnu ‘Umar dikenal sangat meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengangkat tangannya dalam setiap takbir.”

Kedua,tidak ada bacaan dzikir tertentu di antara takbir-takbir (takbir zawa-id). Namun ada sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud, ia mengatakan, “Di antara tiap takbir, hendaklah menyanjung dan memuji Allah. ”Syaikhul Islam mengatakan bahwa sebagian salaf di antara tiap takbir membaca bacaan, “Subhanallah wal hamdulillah wa  laa ilaha illallah wallahu akbar. Allahummaghfirlii war hamnii (Maha suci Allah, segala pujian bagi-Nya, tidak ada sesembahan yang benar untuk disembah selain Allah. Ya Allah, ampunilah aku dan rahmatilah aku).”

Namun bacaannya tidak dibatasi dengan bacaan ini saja. Boleh juga membaca bacaan lainnya asalkan di dalamnya berisi pujian pada Allah ta’ala.

Ketiga, membaca Al Fatihah, dilanjutkan dengan membaca surat lainnya. Surat yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Surat Qaaf pada raka’at pertama dan surat Al Qomar pada raka’at kedua.

Ada riwayat bahwa ‘Umar bin Al Khattab pernah menanyakan pada Waqid Al Laitsiy mengenai surat apa yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat ‘Idul Adha dan ‘Idul Fitri. Ia pun menjawab,“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca “Qaaf, wal qur’anil majiid” (surat Qaaf) dan “Iqtarobatis saa’atu wan syaqqol qomar” (surat Al Qomar).”

Jika hari ‘ied jatuh pada hari Jum’at, dianjurkan pula membaca surat Al A’laa pada raka’at pertama dan surat Al Ghosiyah pada raka’at kedua, pada shalat ‘ied maupun shalat Jum’at.

Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam shalat ‘ied maupun shalat Jum’at  “Sabbihisma robbikal a’la” (surat Al A’laa) dan “Hal ataka haditsul ghosiyah” (surat Al Ghosiyah).”

An Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘id bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat.

Keempat, usai membaca surat, kemudian melakukan gerakan shalat seperti biasa (ruku, i’tidal, sujud, dst). Kemudian, bertakbir ketika bangkit untuk mengerjakan raka’at kedua.

Kelima, kemudian bertakbir (takbir zawa-id/tambahan) sebanyak lima kali takbir -selain takbir bangkit dari sujud- sebelum memulai membaca Al Fatihah di rakaat kedua. Dan kemudian membaca surat Al Fatihah dan surat lainnya sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Serta mengerjakan gerakan lainnya hingga salam.{}

 

LEAVE A REPLY