Ber-i’tikaf Sesuai Syariat

0
143

Banyak cara dilakukan seseorang untuk beri’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Ada berusaha keras mencontoh Nabi, ada juga yang diusahakan semampunya. Lalu bagaimana I’tikaf sesuai syariat?

Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anhaa, ia berkata, “Apabila telah masuk hari kesepuluh, yakni sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam mengencangkan kain sarungnya dan menghidupkan malam-malam tersebut serta membangunkan istri-istrinya.” (Muttafaq Alaihi)

Di dalam hadits tersebut Aisyah menjelaskan bahwa Rasulullah pada malam i’tikaf melakukan beberapa hal yaitu.

Pertama, “mengencangkan kain sarungnya”yang dimaknai bahwa Rasul tekun beribadah, mencurahkan waktu untuknya dan bersungguh-sungguh di dalamya. Ada yang berpendapat, yang dimaksud dengannya ialah menjauhi wanita untuk menyibukkan diri dengan peribadatan.

Kedua, Rasulullah “menghidupkan malamnya”. Rasulullah  menghidupkan seluruh malam dengan begadang untuk melakukan shalat dan selainnya, atau menghidupkan sebagian besarnya.

Ketiga, “membangunkan keluarganya” yakni membangunkan mereka dari tidur untuk beribadah dan shalat.Diriwayatkan dari Aisyah r.a., ia berkata,”Jika Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam ingin melakukan i’tikaf, beliau mengerjakan shalat Shubuh, baru kemudian masuk ke tempat i’tikafnya. (Muttafaq Alaihi)

Pernyataannya, “shalat Shubuh” yakni pada pagi 21 Ramadhan. Maksudnya beliau terfokus dan menyepi di dalamnya setelah shalat shubuh. Bukan berarti bahwa itu dimulainya waktu i’tikaf. Bahkan waktu i’tikaf dimulai sebelum maghrib pada malam ke-21 dalam keadaan beri’tikaf lagi berdiam di masjid secara umum. Ketika setelah selesai shalat Subuh beliau menyendiri.

Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Imam An Nawawi, takwil ini harus dilakukan untuk mengkompromikan antara hadits ini dengan hadits-hadits yang menunjukkan bahwa Nabi beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, sebagaimana hadits ini.

Makna I’tikaf

I’tikaf dalam bahasa Arab berarti iqomah (berdiam). I’tikaf yaitu berdiam diri di masjid untuk beribadah pada Allah di malam-malam terakhir Ramadhan. Berdiam, tidak ditentukan durasi waktunya, bisa lama, bisa singkat. Dalam syari’at tidak ada ketetapan khusus yang membatasi waktu minimal I’tikaf.

Ibnu Hazm rahimahullah berkata, I’tikaf dalam bahasa Arab berarti iqomah (berdiam). Setiap yang disebut berdiam di masjid dengan niatan mendekatkan diri pada Allah, maka dinamakan i’tikaf, baik dilakukan dalam waktu singkat atau pun lama. Karena tidak ada dalil dari Al Qur’an maupun As Sunnah yang membatasi waktu minimalnya dengan bilangan tertentu atau menetapkannya dengan waktu tertentu.

Banyak umat Islam yang mengupayakan waktunya untuk melakukan i’tikaf. Misal, malamnya i’tikaf di masjid dan siangnya kembali bekerja. Hukum melakukan seperti itu adalah diperbolehkan. Jumhur ulama berpendapat minimal waktu i’tikaf adalah lahzhoh, yaitu hanya berdiam di masjid beberapa saat. Demikian pendapat dalam madzhab Abu Hanifah, Asy Syafi’i dan Ahmad.

Imam Nawawi berkata, “Waktu minimal itikaf sebagaimana dipilih oleh jumhur ulama cukup disyaratkan berdiam sesaat di masjid. Berdiam di sini boleh jadi waktu yang lama dan boleh jadi singkat hingga beberapa saat atau hanya sekejap hadir.”

Allah berfirman, “Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.”(QS. Al Baqarah: 187). Ibnu Hazm berkata, “Allah ta’ala tidak mengkhususkan jangka waktu tertentu untuk beri’tikaf dalam ayat ini. Dan Rabbmu tidaklah mungkin lupa.

Kemudian di dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah dari Ya’la bin Umayyah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Aku pernah berdiam di masjid beberapa saat. Aku tidaklah berdiam selain berniat beri’tikaf.”

Artinya tak ada hadits, maupun firman Allah subhanahuwata’ala yang berisikan waktu tetap untuk beri’tikaf di masjid meskipun hanya sesaat, namun diniatkan i’tikaf maka sudah dapat disebut i’tikaf. (wir)

 

LEAVE A REPLY