Cara Mengajarkan Kesederhanaan pada Anak

2
281

Islam mengajarkan kesederhanaan dan melarang kita untuk kikir, tamak, dan berfoya-foya dalam hidup. Lalu bagaimana mengajarkan pola hidup sederhana pada anak?

Tanamkan pada anak bahwa Allah, Dzat yang menguasai hidup manusia, tidak menyukai segala sesuatu yang berlebihan. Hal ini merupakan poin penting untuk memberi pemahaman pada anak bahwa Allah tidak menyukai segala sesuatu yang berlebihan. Sesuai dengan firman Allah, “Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan” (Q.S Al-An’am ayat 141).

Begitu juga Allah melarang “menjerat leher” karena terlalu hemat sebagaimana Dia melarang hambanya untuk hidup boros dan berpoya-poya, karena kedua sikap ini bertentangan dengan hidup sederhana. Allah menyukai pertengahan.

Salah satu contoh kongkrit dalam mempraktikkan tips pertama adalah dengan memberikan reward atau hadiah kepada anak atas prestasi yang ia raih, sesuai dengan kadarnya (tidak berlebihan).

Banyak kita jumpai orangtua yang berlebihan dalam memberikan reward pada anak. Hal ini akan berdampak pada anak, yaitu anak akan menuntut untuk mendapatkan hal yang sama –bahkan lebih— ketika ke depan, ia mampu meraih prestasi lagi. Usahakan untuk tidak menghadiahkan anak barang yang terlalu mewah ketika ia berhasil melakukan sesuatu. Reward tidak harus berupa barang, ucapan selamatpun sebenarnya bagian dari bagian dari bentuk apresisi kepada anak.

Ajarkan Sifat Qana’ah pada Anak

Contoh real dalam menanamkan sifat qana’ah pada anak antara lain, mengajarkan dan membiasakan anak untuk bersikap ihklas terhadap apa yang telah ia terima dan menjadi miliknya, tanpa ada rasa cemburu atau iri terhadap apa yang diterima orang lain.

Apalagi, sifat manusiawi anak adalah ‘ikut-ikutan’. Ketika ada salah satu kawannya memiliki barang-barang tertentu, terkadang anak juga menginginkan dan menuntut hal yang sama untuk harus dimiliki.

Mengajari Sedekah pada Anak

Pentingnya mengajarkan anak bersedekah sejak dini perlu dipahami oleh orangtua. Selain membuka pintu rezeki, sedekah juga melatih diri kita untuk menghindari sifat kikir dan tamak.Allah berfirman, “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah Ayat: 195).

Tips ini dapat dimulai dengan memberi contoh dan mengajak anak untuk bersedekah. Meskipun bersedekah dalam hal-hal kecil, seperti memberi roti pada musafir yang kita temui di jalanan, membagi makanan kepada tetangga, berinfaq di masjid, mengunjungi panti jompo, dan sebagainya. Manfaat mengajarkan anak bersedekah sejak dini antara lain, menumbuhkan rasa empati, menanamkan keikhlasan, dan menjauhkan diri dari kecintaan pada duniawi semata. Dengan melakukan kegiatan bersedekah, ananda akan bertemu dengan orang-orang yang secara ekonmi ada di bawah, dengan begitu akan belajar bersyulur atas apa yang ia punya.

Sedekah juga dicontohkan pada zaman Rasulullah.  Salman Al-Farisi, seorang putera Persia yang berasal dari negeri yang terkenal dengan kemewahan dan kesenangan hidup. Salman bukanlah berasal dari golongan miskin, tetapi Ia berasal dari golongan kaya.  Salman hanya butuh 1 dirham untuk menncukupi kebutuhan diri dan keluarganya. Satu dirham pun Ia peroleh dari hasil jerih payahnya. Gaji yang diterima Salman tak sedikit antara 4.000-6.000 dinar setahun. Tapi semuanya ia bagikan. Tak sedikit pun ia ambil untuk kepentinganya. Kezuhudan dan amalan baik Salman Al-Farisi ini hendaknya kita contoh dalam hidup sehari-hari. (Din)

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY