Cara Redam Emosi Anak dengan Tepat

0
101

Jika tiba-tiba ananda mengamuk, menangis merangung-raung di depan public, para orangtua seringkali mengeluarkan berbagai jurus untuk mendiamkannya. Namun jika jurus yang dikeluarkan salah, akan berdampak dalam pembentukan karakter anak.

Ekspresi dalam meluapkan emosi anak banyak umumnya dilakukan dengan berbagai cara, seperti menangis sekencang-kencangnya, bergulung-gulung di jalan, berteriak sekuat yang ia bisa, mogok makan, melempar barang, membanting pintu, dan sebagainya. Meski demikian itu, si kecil belum memahami bagaimana seharusnya menyalurkan emosinya dengan benar.

Orangtua yang salah langkah dalam menyikapi emosi anak dapat berakibat fatal bagi sang anak (dampak psikologis dan kepribadian). Oleh sebab itu orang tua perlu menyikapi dengan tepat atas kemarahan anak.

Bukan dengan Iming-iming

Umumnya para orangtua akan memberikan iming-iming agar emosi anak reda. Namun hal ini tidaklah tepat. Selain karena meredakan emosi hanya sesaat, memberikan iming-iming kepada anak juga akan membuat anak emosi lagi karena mengharapkan janji atau iming-iming. “Sudah jangan marah nanti Ibu belikan es krim.” Kalimat ini sering terlontar hanya untuk mendiamkan si anak. Ibu tidak benar-benar akan membelikan anak es krim. Bukankah ini mengajarkan kebohongan?

Selain itu, kalimat ini akan membentuk pola kebiasaan yang kurang baik pada anak. Bagaimana tidak? Setiap anak marah, selalu diberi iming-iming. Ketika esoknya anak marah lagi, diberi iming-iming lagi. Mungkin niat  si Ibu baik, supaya anak cepat reda emosinya.

Jika sang ibu benar-benar membelikan sang anak es krim, sama saja dengan member hadiah ketika anak sedang rewel. Setelah itu, anak akan berusaha untuk rewel agar mendapatkan es krim sebagai “hadiah”nya. Namun menerapkan pemahaman bahwa tidak selamanya yang ia inginkan harus ia dapatkan adalah langkah yang tepat.

Bukan dengan Cara Menakut-nakuti

Elly Risman seorang psikolog ternama dari Jakarta menyebut gaya ini sebagai 12 gaya popular, atau disebut parentogenik (penyakitnya orangtua). “Sudah jangan teriak-teriak nanti dimarahin satpam,” adalah contoh kalimat menakut-nakuti anak yang justru semakin membuatnya takut.

Menakut-nakuti anak bukanlah langkah yang tepat untuk meredam emosi anak. Ini akan membentuk pola pikir anak untuk terus takut kepada satpam ketika ia menjumpai satpam lagi. Di manapun ada satpam, ia akan takut karena merespon bahwa satpam adalah sosok yang garang.

Dekap Sang Anak dengan Erat

Inilah yang tepat dilakukan orangtua untuk meredam emosi anak. Ketika anak sedang emosi, entah itu berkata-kata kasar, melempar barang, penting bagi orang tua untuk mendekap sang anak dengan erat. Hal ini akan lebih tepat dilakukan oleh sang Ayah karena tenaganya mampu untuk mendekap anak dengan erat.

Dekapan erat sangat diperlukan karena umumnya anak akan berontak dan tetap menjerit-jerit meski dipeluk. Jika anak melakukan itu, tidak perlu panik, tetap dekap dengan erat sambil ucapkan kalimat yang menenangkan lagi berisi nasehat. Mendekap saja tidak akan memberikan efek yang berarti, diperlukan kalimat-kalimat positif juga untuk meredam emosi anak. Kalimat-kalimat yang dilontarkan Ayah haruslah dengan nada yang lembut.

Turunkan Frekuensi

Ketika sang anak dalam emosi dan nada bicara yang tinggi, orangtua haruslah meredamnya dengan frekuensi yang lembut dan rendah. Jika orangtua juga meresponnya dengan frekuensi tinggi, maka sang  anak akan semakin berontak dan hal ini akan membuat anak menjadi pribadi yang defensif.

Jelaskan pada Anak ketika Emosinya Reda

Menjelaskan pada anak ketika ia sedang emosi bukanlah hal yang tepat. Penting bagi orangtua untuk memahami kondisi anak, tunggu hingga sang anak calm down. Hati yang senang, akan membuat otak anak mampu menyerap lebih banyak dan baik. “Tadi adik marah minta dibelikan permen ya? Adik lupa ya kalau lagi batuk? Permen itu akan bikin batuknya tidak sembuh. Ayah dan ibu, karena sayang sama Adik, tidak membelikan permen itu.”

 

Tebak dan Sentuh Perasaan Anak

Anak akan senang jika ia merasa dikenal dan dipahami. “Adek tadi kenapa mukul temannya?’ Mungkin anak akan menjawab, “Sakit bu tadi dia nyenggol lengan adek.” Mengiyakan dan mempercayai jawaban atau pembelaan anak lebih dulu. Kemudian jelaskan,

“Iya sakit ya Nak? (sambil elus lengannya). Tapi mungkin nggak sengaja Dek, lain kali disenyumin aja ya, dimaafkan, kan lebih enak jadinya (tersenyum) sambil disampaikan ke temenmu untuk lebih berhati-hati.”

Dengan kalimat positif seperti itu akan menyentuh hati anak. Anak akan senang jika orang tua mampu memahami dan mempercayai perasaanya.

Kendali Harus di Tangan Orangtua

Jangan sampai kendali ada pada anak. Ketika kendali ada pada anak, maka ia akan bertindak semaunya sendiri. Hal ini akan membentuk pribadi anak menjadi pribadi yang semaunya sendiri dan tak mau meredam ego. Ajarkan anak untuk negosiasi dengan baik dan bijak.

Beberapa tips di atas adalah langkah yang tepat untuk meredam emosi anak. Penting untuk tidak salah langkah ambil tindakan dalam merespon emosi anak. Semoga kita senantiasa menjadi orang tua yang bijak, bertanggung jawab dan mampu menjadi sahabat untuk anak. Aamiin. (Din)

LEAVE A REPLY