Cara Tepat Terapkan Reward dan Punishment bagi Anak

0
101

Salah satu metode mendidik anak yang dewasa ini banyak diterapkan para orang tua adalah metode reward dan punishment. Bagaimana aturan menerapkan metode ini? Apa konsekuensi jika kita mengabaikan aturan-aturan tersebut? Simak penjelasannya berikut.

Dalam dunia parenting, dikenal yang namanya ‘reward’ dan ‘punishment’. Reward adalah pemberian penghargaan pada anak atas prestasi atau kebaikan yang telah dicapai. Menurut  M. Ngalim Purwanto, dalam buku Ilmu Pendidikan Teoritas dan Praktis yang ia tulis, reward adalah alat pendidikan represitif yang menyenangkan, diberikan kepada anak yang memiliki prestasi tertentu dalam pendidikan, memiliki kemajuan dan tingkah laku yang baik sehingga dapat dijadikan tauladan bagi teman-temannya.

Sedangkan punishment adalah hukuman pada anak atas kesalahan yang ia lakukan. Keduanya antara reward dan punishment, haruslah berjalan secara seimbang.

Aturan dalam Menerapkan Reward

  • Boleh untuk memberikan hadiah kepada anak setelah prestasi yang ia capai, namun penting untuk tekankan kepada anak bahwa hal ini tidak menjadi rutinitas untuk kedepannya apabila ia meraih prestasi lagi.

Boleh untuk orangtua mengatakan “Kalau hari ini dikasih hadiah, belum tentu besok-besok dikasih hadiah lagi ya, doakan aja Allah kasih kemudahan rezeki ke Ayah biar bisa belikan hadiah lagi.” Hal ini ditujukan agar anak mampu memahami kondisi orangtua dan tidak mudah menuntut hadiah kepada orangtua.

  • Hadiah tidak harus berupa barang, namun juga dapat berupa non barang, misalnya peluk-cium dengan tulus dan tak perlu menahan air mata haru, tumpahkan saja sambil beri apresiasi pada prestasi atau kelakukan anak yang membanggakan.
  • Tak perlu berlebihan juga dalam memberi hadiah. Sesuaikan saja.
  • Hadiah sebaiknya berujung pada dorongan atau motivasi agar anak lebih baik lagi dengan ikhlas.
  • Terakhir, penting untuk ditekankan agar orangtua tidak mengatakan, “Kan ibu sudah belikan boneka, kenapa adek nggak nurut?” Karena hal ini akan memicu anak untuk menjadi pamrih terhadap imbalan atas kebaikan yang ia lakukan.

Aturan untuk Menerapkan Punishment

  • Perhatikan usia anak. Jika anak masih balita, tentu ia tidak mengerti dengan apa itu hukuman. Jadi, jangan terapkan teknik memberi punishment pada anak yang masih dalam usia balita. Karena itu akan menjadi tekanan tersendiri bagi anak yang belum pada saatnya untuk diberi hukuman.
  • Perhatikan juga jenis pelanggaran dan kadar hukumannya.
  • Hukuman harus bersifat mendidik, bukan hukuman fisik yang memberatkan dan menguras tenaga anak. Karenanya, tinggalkan hukuman seperti menampar anak.
  • Menghukum anak tidak menggunakan emosi dan intonasi yang tinggi, karena ini justru membuat anak takut terhadap sosok orang tuanya sendiri.
  • Tak ada salahnya kita memberi informasi pada anak, bahwa akan ada sanksi tertentu jika perilakunya tidak menyenangkan banyak pihak.
  • Seperti pemberian hadiah, maka dalam pemberian hukuman pun harus ada evaluasi. Apakah cara menghukum yang kita terapkan itu sudah memberi efek baik?
  • Ketika anak berbuat salah dan emosi kita langsung meluap, hindari dulu pemberian hukumannya. Kendalikan amarah, jangan sampai hukuman yang kita jatuhkan itu berlandaskan emosi belaka.
  • Hindari hukuman fisik dan psikis, semisal mengeluarkan kata-kata tak sepatutnya. Sebab jika bekas cubitan bisa kembali normal, maka tidak dengan ingatan dan perasaan anak pada kata-kata atau sikap kita yang menyakitkan.
  • Hukum anak dengan tegas. Jangan sampai karena anak nangis, kita langsung menyerah dan membiarkan perlakuan jeleknya.
  • Hukuman sebaiknya menjadi alternatif terakhir, bukan menjadi sebuah rutinitas tersendiri.

Namun bagaimanapun, prinsip-prinsip dasar dalam menididik anak yang harus selalu dipegang adalah lemah lembut dan kasih sayang sebagai dasar muamalah dengan anak. Al-Baihaqi meriwayatkan, “Ajarkanlah ilmu dan janganlah kalian bersikap keras, karena sesungguhnya mengajar ilmu lebih baik dari orang yang ber­sikap keras.”

Dan jangan  lupa, keteladanan mutlak diperlukan. Orangtua adalah panutan utama. Punishment tidak akan berdampak baik, jika ternyata orangtua juga melanggar aturan yang sudah disepakati. Misalnya, jika orangtua memberi punishment kepada anak jika ia tidak berangkat ke masjid, namun orangtua, terutama Ayah tidak berangkat ke masjid saat adzan berkumandang, akan membingungkan ananda. Ia akan bertanya-tanya mengapa ia harus menaati aturan jika ayahnya melanggarnya.

Semoga kita senantiasa mampu membimbing anak-anak kita dalam meraih surga dengan Ridho Allah subhanahu wa ta’alla. Aamiin. (Din)

LEAVE A REPLY