Catatan Rihlah: Beras Basah yang Indah

0
583

Cerita ini akan mengalir dengan bahasa sederhana. Ada hal menarik yang akan diceritakan, maka sediakanlah waktu beberapa menit. Keindahan Beras Basah dalam cerita, menarik pula untuk dibaca.

Pulau Beras Basah. Sebuah pulau kecil, yang terletak cukup jauh dari kota Bontang. Kita perlu berlayar dengan kapal, jika hendak kesana. Tak perlu khawatir, pelabuhan Tanjung Laut menyediakan kapal angkutan dengan banyak muatan.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya 25 Agustus, kami melakukan perjalanan ke Beras Basah. Ada dua kapal yang dipesan, dikoordinir langsung oleh Pak Mahmud, kepala Prasarana Yayasan Asy Syaamil Bontang.

Prasarana adalah segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya suatu proses (usaha, pembangunan, proyek)

Perjalanan ini kita sebut sebagai rihlah. Bisa pula diartikan sebagai refreshing. Hal ini diperlukan agar terus bersemangat dalam bekerja.

Kira-kira pukul 08:15 WITA, kapal pertama berangkat. Kapal kedua akan menyusul, karena ada beberapa peserta belum datang.

Saat kapal berlayar, kami sebenarnya kaget. Kok kapal ini tampak miring ke kiri? Kami tentu saja was-was. Apalagi diantara kami ada yang bisa berenang, ada yang belum bisa.

Beberapa menit berlalu, kami akhirnya tahu alasannya. Yaitu: Agar kapal tetap stabil karena menyesuaikan dengan ombak besar.

Kiri kanan kapal terbentang laut yang luas. Pelabuhan Tanjung Laut perlahan mulai tak kelihatan. Peserta bercengkrama. Satu diantaranya live di Pesbuk. Ikan-ikan kecil berlompatan di pinggir kapal. Mungkin ingin berkata: Hayuk, kami antar ke pulau yang indah.

Ombak yang cukup besar menghantam kami. Beberapa diantara peserta terlihat khawatir. Namun itu tidak ada artinya, beberapa menit kemudian. Pulau Beras Basah, ada di depan mata!

Beberapa waktu berselang, kapal kedua pun datang. Kami tak perlu repot-repot lagi memasang tenda. Disini, tenda sudah disiapkan. Cukup membayar beberapa rupiah, kita bisa bersantai, sambil melihat keindahan pulau.

Ibu-ibu mulai menyiapkan konsumsi. Bapak-bapak gak mau kalah, cekatan membantu menyiapkan. Tugas bapak-bapak dalam konsumsi cukup seru: BAKAR IKAN.

Sambil menunggu konsumsi, peserta memilih untuk jalan-jalan, ada yang berenang, naik kapal kecil, ada juga yang hanya duduk manis menikmati keindahan, lantas berkumpul bersama saat ada seorang memberi sinyal: Waktu makan telah tiba.

Yang paling berkesan adalah, berpetualang di bawah laut. Ikan warna-warni, terumbu karang, batu-batu indah, dan banyak lagi menjadi pemandangan yang tak terlupakan. Cukup menyewa Snorkeling Masker, keindahan itu bisa dirasakan.

Pak Mahmud, adalah salah satu yang menikmati petulangan tersebut. Ia berkeliling sambil menyelam. Kami hanya bisa geleng-geleng, beliau tampak punya energi sangat banyak.

“Kapan lagi kan?” ujarnya.

Pulau Beras Basah memang menarik. Sangat berbeda dari sebelum-sebelumnya. Kalau dulu kekurangan pohon kelapa, kini pohon kelapanya berjejer rapih. Juga ada tulisan Beras Basah dengan ukiran yang menarik. Pulau ini cukup bersih, dan mungkin akan jauh lebih bersih ke depan. Karena wisata lokal macam ini, sangat perlu dilestarikan.

Jadi ngebayangin ada jembatan panjang menuju pulau ini.. Hehe

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Rasa-rasanya baru saja makan ikan bakar bikinan Bapak-bapak. Rasa-rasanya baru saja menikmati es segar buatan ibu-ibu. Tak ingin meninggalkan pulau ini segera. Rasa-rasanya… Rasa-rasanya…

Baiklah, mari kita pulang. Beras Basah, tunggu kami kembali…

Btw maafkeun foto tersebut apa adanya. Karena niatnya liburan, refreshing, buka foto-foto 😀

Ebid Salam, Bontang, 27 Agustus 2019

tinggalkan komentar