Efek Buruk Terlalu Ikut Campur Kehidupan Anak

0
165

Setiap orangtua pasti memiliki naluri untuk melindungi dan menjaga anak-anaknya dari segala keburukan. Bahkan orangtuapun memiliki cara yang berbeda-beda dalam melindungi anaknya, meski anak terkadang merasa jika perlakuan orangtuanya sangat berlebihan. Namun terkadang orangtua tidak pernah menyadari bahwa hal tersebut bisa berakibat buruk untuk kehidupan anak.

Dilansir dari laman hallosehat.com hal ini dikenal dengan  pola asuh helicopter parenting dimana istilah sempat populer dalam satu dekade terakhir. Helicopter parenting adalah istilah yang merujuk pada cara pola asuh anak oleh orangtua yang terlalu berfokus terhadap kehidupan anak.

Akibatnya, orang tua terlalu ikut campur terhadap berbagai persoalan yang dihadapi oleh anak mereka. Berbeda dengan pola asuh yang menuruti berbagai keinginan anak, pola asuh helicopter parenting lebih cenderung menentukan bagaimana anak seharusnya bertindak, dan lebih bersifat terlalu melindungi anak dari kesulitan atau kegagalan.

Pakar psikologi Michael Ungar mengatakan bahwa orangtua yang menganut pola asuh helicopter parenting sangat tidak sesuai dengan tujuan utama pola asuh, karena justru yang demikian akan menjadikan anak tidak mampu menyelesaikan berbagai tugas orang dewasa. Melatih anak untuk mengambil keputusannya sendiri jauh lebih penting dibandingkan membiarkan mereka bergantung pada orangtua untuk menyelesaikan masalah yang ia hadapi.

 Helicopter parenting dapat berupa berbagai perilaku orangtua yang terlalu memonitor kehidupan sekolah, sosial, bahkan pekerjaan anak, misalnya Menentukan jurusan pendidikan yang diambil oleh anak meskipun anak tidak menyukainya, Memonitor jadwal makan dan olahraga, orangtua meminta anak untuk selalu memberikan kabar di mana ia berada dan dengan siapa, saat nilai anak buruk, orangtua menghubungi guru atau dosen untuk protes, ikut campur jika ada permasalahan dengan teman atau pekerjaan.

Kenapa orangtua terlalu ikut campur dalam kehidupan anak?

 Ada banyak alasan yang membuat orangtua terlalu ikut campur dalam kehidupan anak. Hal ini bisa dilatarbelakangi oleh kecemasan yang berlebihan. Sehingga, orangtua sengaja mengambil alih seluruh tugas yang seharusnya bisa dilakukan oleh anak secara mandiri.

 Padahal jika orangtua seperti ini yang selalu membiasakan membantu anaknya dalam berbagai hal sejak ia masih anak-anak kemungkinan akan terus melakukannya hingga dewasa. Tanpa disadari, saat sudah remaja atau dewasa, anak cenderung menjadi mudah cemas dan selalu mengandalkan orangtua saat menghadapi kesulitan.

Dan pola asuh helicopter parenting dianggap tidak baik bagi perkembangan anak dikarenakan ada beberapa hal yaitu anak akan mengalami kesulitan untuk memecahkan masalah, karena ia memiliki kepercayaan diri yang rendah dan lebih takut akan kegagalan.  Selain itu anak juga sulit beradaptasi dan pada akhirnya akan berdampak pada kehidupan sosial, pendidikan, bahkan karir setelah ia dewasa.

Dampak negatif selanjutnya yaitu anak tidak memiliki coping skill. Coping skill adalah keterampilan seseorang agar dapat menghadapi permasalahan dan rasa kekecewaan atau kegagalan dengan baik. Jika coping skill ini dihambat dengan pola asuh yang demikian, akibatnya anak tidak terbiasa mengatasi masalah atau menghadapi kegagalan, dan mereka tidak pernah belajar bagaimana menyelesaikan persoalan tersebut.

Yang dapat dilakukan orang tua agar tidak terlalu ikut campur

Terlalu khawatir dan ikut campur dalam kehidupan anak bukanlah cara yang bijak untuk menjalin kedekatan dengan Anak. Berikut beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk menghindari pola asuh helicopter parenting:

  1. Membiarkan anak belajar untuk menangani hal dan tanggung jawabnya sendiri adalah hal terbaik untuk membuatnya lebih mandiri dan mengembangkan kemampuannya dalam menjalani kehidupan. Selain itu, ada baiknya orangtua membiarkan anak membuat keputusan dan menerima konsekuensinya sendiri, selama hal tersebut tidak membahayakan bagi kesehatan dan keselamatan anak.
  2. Hindari terlalu cemas dan membuat sesuatu terkesan lebih buruk dari yang sebenarnya. Hal ini hanya akan membuat anak bingung dan menjadi mudah cemas karena respon negatif yang diberikan orangtua terhadap suatu permasalahan. Hadapi kesulitan bersama dengan anak, dengan menghadirkan respon yang lebih positif dan tanpa membuat anak lebih cemas.
  3. Jangan membuat anak menjadi pusat dari kehidupan Anda karena anak berhak menentukan pilihannya sendiri. Serta ingat, tinggi atau rendahnya pencapaian anak bukanlah indikator yang sesuai dengan kualitas pola asuh anak yang Anda lakukan.
  4. Memaksakan pendapat terhadap anak dapat menyebabkan anak tidak memiliki pendirian akan pendapatnya sendiri. Oleh karena itu, pahamilah sebagai sesuatu yang positif jika anak Anda memiliki pendapat yang berbeda dengan Anda. Jika hal tersebut tidak kurang sesuai dengan kebaikan anak, cobalah ajak ia berbicara dan pahami mengapa anak Anda berpikir demikian. (Muf)

 

LEAVE A REPLY