Era Digital Tak Menjamin Bebas dari “Bullying”

0
138

Mudahnya akses menuju dunia digital membuat siapa saja dapat mudah mengaksesnya, tak terkecuali anak-anak. Ironisnya, dengan kemudahan ini membuat tingkat bullying pada anak semakin meningkat.

Peningkatan bullying ini didapat dari laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang menunjukkan bahwa pengaduan bullying di dunia maya mulai ada sejak tahun 2016, padahal di rentang tahun 2011-2015 tidak ada satupun pengaduan mengenai cyber bullying. Peningkatan angka ini tercatat naik dua kali lipat setiap tahun seperti kata Retno Listyarti, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Kemudian, kasus cyber bullying kepada anak yang baru-baru terjadi ini adalah kasus bullying kepada selebgram tiktok, Prabowo Mondardo atau yang biasa disebut Bowo. Banyak umpatan kasar dan tak pantas dari warganet atas aksinya dalam aplikasi Tiktok ini.

Bullying yang dilakukan ke Bowo ini kebanyakan dilakukan oleh orang yang jauh lebih tua dari Bowo. Retno Listyarti menjelaskan lebih lanjut, “Kami KPAI menyayangkan terkait dengan bully yang dilakukan oleh banyak pihak kepada Bowo. Ini kan masih anak-anak, bahkan yang mem-bully kalau di buka di media sosial ternyata usianya jauh lebih tua dari Bowo.” Ia menilai bullying ini sangat keterlaluan hingga ada ancaman kepada Bowo dan keluarganya, dan tentu ini dapat mempengaruhi Bowo dan keluarganya.

Lalu, dilihat dari dampak yang dihasilkan dari cyber bullying ini dampaknya begitu besar, karena komentar-komentar yang negatif kebanyakan dilakukan oleh orang tak dikenal dan komentar tersebut juga dapat dibaca oleh orang lain. “Komentar negatif di dunia maya justru berasal dari orang yang tak dikenal dan menyebar secara luas sehingga dapat dibaca oleh banyak orang.” ujar Retno.

Sementara itu, menurut penelitian Kaiser Family Foundation & Children Now pada tahun 2011 menunjukkan berbagai dampak negatif yang ditimbulkan dari bullying.

  1. Munculnya berbagai masalah mental seperti depresi, kegelisahan dan masalah tidur. Dan masalah ini bisa terbawa hingga anak tersebut sudah dewasa.
  2. Keluhan kesehatan fisik, seperti sakit kepala, sakit perut, dan ketegangan otot.
  3. Rasa tidak aman saat berada di luar rumah.
  4. Penurunan semangat belajar dan prestasi akademis.
  5. Dalam kasus yang cukup langka, anak-anak korban bullying akan menunjukkan sifat kekerasan.

Maka dari itu untuk menghindari dampak-dampak tersebut kepada anak-anak peran serta tak hanya orangtua yang diperlukan namun juga seluruh elemen untuk menciptakan kondisi yang nyaman untuk anak baik ketika berselancar di dunia digital maupun bermain di luar rumah. Agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan lingkungan yang baik dan menerimanya. (ipw)

LEAVE A REPLY