Guru yang Baik Menurut Imam Al Ghazali

0
501

Menjadi guru yang baik menurut adalah hal yang paling penting.  Karena itu sebagai dedikasi kita kepada Negara, sebagai bentuk dari perjuangan melawan kebodohan. Karena guru itu mencetak generasi-generasi penerus bangsa. Menjadi guru memang tidaklah mudah, untuk itu dibutuhkan kemampuan khusus. Lalu bagaimana kiatnya bisa menjadi guru yang baik?

Definisi Guru

Pertama yang harus kita tekankan terlebih dahulu adalah definisi / arti dari guru itu sendiri. Apakah guru itu seseorang yang mengajari kita matematika, bahasa Indonesia, IPS atau IPA? jawabannya “itu bagian dari tugas mereka, namun itu bukan definisi guru”. Lalu apa?

Guru adalah seorang “pendidik”, pendidik adalah orang yang memikul tanggung jawab untuk membimbing (Ramayulis, 1982:42) “coba spesifikasikan lagi pada seorang pendidik!”, baiklah, pendidik tidak sama dengan pengajar karena mengajar adalah bagian dari tugas pendidik , seorang pengajar hanya melakukan proses pemberian materi pelajaran atau dengan redaksi kata lain “melakukan transfer ilmu” kepada murid-muridnya dan indikator keberhasilan tertinggi (prestasi) seorang pengajar adalah ketika orang yang diajari (murid) paham betul dengan materi yang telah diajarkannya. sedangkan pendidik bukan hanya bertanggung jawab menyampaikan materi pelajaran kepada murid saja, tetapi juga membentuk kepribadian seorang anak didik bernilai tinggi. (Ramayulis, 1998:36)

Sifat Guru Menurut Imam Al-Ghazali

Lalu apa tugas seorang pendidik (guru), Menurut Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihyaa Ulumuddin , Guru itu harus cerdas dan sempurna akalnya, juga guru yang baik akhlaknya dan kuat fisiknya Dengan kesempurnaan akal ia dapat memiliki berbagai ilmu pengetahuan secara mendalam, dan dengan akhlaknya yang baik ia dapat menjadi contoh dan teladan bagi para muridnya, dan dengan kuat fisiknya ia dapat melaksanakan tugas mengajar, mendidik dan mengarahkan anak-anak muridnya.

Cara Menjadi Guru Yang Baik

  1. Seorang guru harus benar-benar menguasai materi dengan baik yang akan diajarkan. banyak hal cara bagaimana kita menyiapkan materi agar anak didik kita mengerti sekaligus memahami materi yang kita sampaikan. rekan-rekan saya anggap sudah mengerti apa yang saya maksud kan?, intinya siapkan yang akan Anda ajarkan, walaupun sekecil apapun itu.
  2. Gunakan bahasa, cara, metode yang sederhana agar anak didik Anda cepat memahaminya, setelah Anda menerangan, tannya kepada mereka, “Sudah paham?, Ada yang perlu ditannyakan”, kasusnya adalah ketika hal itu kita lakukan kadang anak didik kita tidak ada yang tanya, dikarenakan mungkin, takut, atau dikarenakan hal yang lain. Dan itu kita bisa mensiasatinya dengan cara kita sendiri-sendiri. Cara dari khafid.com Beri nilai plus kepada murid yang bertanya (tambahan nilai), dan berikan hadiah kepada muruid apabila ada yang bisa menjelaskan pertannyaan murid yang bertannya. itu sebagai salah satu faktor kita bisa menghidupkan suasana kelas. yang nanti kita akan membahasnya di bawah ini.
  3. Mampu menghidupkan suasana kelas. Disisnilah kesulitan para pengajar. Mengapa sulit dikarenakan beragam karakter dari sang murid. Bagaiamana kita bisa menguasai kelas kalau kita tidak mengerti karakter dari mereka (murid)?, Jelajahi karakter-karakter mereka, beri mereka kenyaman waktu kita ada di depan mereka, yang itu akan menimbulkan mereka suka dengan materi yang kita sampaikan.
  4. Sersan (serius tapi Santai). jangan terlalu serius dan jangan terlalu santai (suasana kelas). Jadi ketika kita mengajar beri sedikit guyonan yang tujuannya agar mereka tidak jenuh dengan pelajaran yang kita ajarkan waktu itu.
  5. Satukan mereka dengan permainan atau game, diselah-selah waktu terakhir (tidak sering). Dengan permainan yang kreatif, tidak melenceng jauh dari pelajaran kita. Contoh: kita mengajar MATEMATIKA, dimana 1 kelas ada 30 murid, kita bagi 3 kelompok, masing-masing membentuk lingkaran dan quisnya cukup sederhana, yaitu berhitung. dari 1-30 / dari AZ. terserah putaran bagiannya dari kiri atau dari kanan, dan itu harus dilakukan tidak bisa berhenti, anak pertma: “A”, Anak kedua “B” dan seterusnya, dan nantinya kalau ada yang salah kita beri

Sifat-Sifat Khusus Guru

Selain itu ada sifat-sifat khusus yang harus dimiliki oleh guru, yakni:

  1. Jika praktek mengajar merupakan keahlian dan profesi dari seorang guru, maka sifat terpenting yang harus dimilikinya adalah rasa kasih sayang. Sifat ini dinilai penting karena akan dapat menimbulkan rasa percaya diri dan rasa tenteram pada diri murid terhadap gurunya. Hal ini pada gilirannya dapat menciptakan situasi yang mendorong murid untuk menguasai ilmu yang diajarkan oleh seorang guru. Karena mengajarkan ilmu merupakan kewajiban agama bagi setiap orang alim(berilmu), maka seorang guru tidak bisa menuntut upah atas jerih payahnya mengajarnya itu. Seorang guru harus meniru Rasulullah SAW. yang mengajar ilmu hanya karena Allah, sehingga dengan mengajar itu ia dapat bertaqarrub kepada Allah. Demikian pula seorang guru tidak dibenarkan minta dikasihani oleh muridnya, melainkan sebaliknya ia harus berterima kasih kepada muridnya atau memberi imbalan kepada muridnya apabila ia berhasil membina mental dan jiwa. Murid telah memberi kesempatan kepada guru untuk dekat pada Allah SWT. Namun hal ini bisa terjadi jika antara guru dan murid berada dalam satu tempat, ilmu yang diajarkan terbatas pada ilmu-ilmu yang sederhana, tanpa memerlukan tempat khusus, sarana dan lain sebagainya. Namun jika guru yang mengajar harus datang dari tempat yang jauh, segala sarana yang mendukung pengajaran harus diberi dengan dana yang besar, serta faktor-faktor lainnya harus diupayakan dengan dana yang tidak sedikit, maka akan sulit dilakukan kegiatan pengajaran apabila gurunya tidak diberikan imbalan kesejahteraan yang memadai.
  2. Seorang guru yang baik hendaknya berfungsi juga sebagai pengarah dan penyuluh yang jujur dan benar di hadapan murid-muridnya. Ia tidak bisa membiarkan muridnya mempelajari pelajaran yang lebih tinggi sebelum menguasai pelajaran yang sebelumnya. Ia juga tidak bisa membiarkan waktu berlalu tanpa peringatan kepada muridnya bahwa tujuan pengajaran itu adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT,. Dan bukan untuk mengejar pangkat, status dan hal-hal yang bersifat keduniaan. Seorang guru tidak bisa tenggelam dalam persaingan, perselisihan dan pertengkaran dengan sesama guru lainnya.
  3. Dalam kegiatan mengajar seorang guru hendaknya menggunakan cara yang simpatik, halus dan tidak menggunakan kekerasan, cacian, makian dan sebagainya. Dalam hubungan ini seorang guru hendaknya jangan mengekspose atau menyebarluaskan kesalahan muridnya di depan umum, karena cara itu dapat menyebabkan anak murid yang memiliki jiwa yang keras, menentang, membangkang dan memusuhi gurunya. Dan jika kondisi ini terjadi dapat menimbulkan situasi yang tidak mendukung bagi terlaksananya pengajaran yang baik.
  4. Seorang guru yang baik juga harus tampil sebagai teladan atau panutan yang baik di hadapan murid-muridnya. Dalam hubungan ini seorang guru harus bersikap toleran dan mau menghargai keahlian orang lain.Seorang guru hendaknya tidak mencela ilmu-ilmu yang bukan keahliannnya atau spesialisasinya. Kebiasaan seorang guru yang mencela guru ilmu fiqih dan guru ilmu fiqih mencela guru hadis dan tafsir, adalah guru yang tidak baik. (Al-Ghazali, t.th: 50)
  5. Seorang guru yang baik juga harus memiliki prinsip mengakui adanya perbedaan potensi yang dimiliki murid secara individual dan memperlakukannya sesuai dengan tingkat perbedaan yang dimiliki muridnya itu. Dalam hubungan ini, Al-Ghazali menasehatkan agar guru membatasi diri dalam mengajar sesuai dengan batas kemampuan pemahaman muridnya, dan ia sepantasnya tidak memberikan pelajaran yang tidak dapat dijangkau oleh akal muridnya, karena hal itu dapat menimbulkan rasa antipati atau merusak akal muridnya. (Al-Ghazali, t.th: 51). (Yet)

 

LEAVE A REPLY