Hindari Paksaan, Mari Bersahabat dengan Anak

0
119

Memaksa, memang cara termudah dan tercepat untuk mewujudkan perilaku yang dikehendaki. Namun percayalah, paksaan tak akan membuat ananda melakukan perintah dengan segenap hati. Perintah dengan paksaan justru menantangnya untuk tidak mematuhi apa yang dikatakan orangtuanya. Lalu bagaimana caranya?

Akhir-akhir ini, label ‘orangtua keras’ mulai memudar di benak masyarakat. Hal ini seiring dengan pemahaman orangtua yang semakin baik terhadap gaya mendidik anak. Jika dulu hubungan anak dengan orangtua adalah hubungan satu arah, di mana orangtua memberi komando dan anak menerima komando, orangtua membuat aturan dan anak mengikuti aturan, orangtua menghukum –fisik maupun non fisik—dan anak mengikuti. Namun di era milenial ini, hubungan orangtua dengan anak lebih bersifat ‘luwes’.

Barangkali tak seluruh orangtua menerapkan gaya parenting era milenial ini, namun sudahkah Anda mencobanya?

Jangan Berikan Pressure pada Anak

Theasianparent.com menuliskan beberapa hal bisa terjadi jika orangtua memberikan tekanan pada anak, khususnya menekan anak untuk mencapai target akademik. Salah satu hal yang bisa terjadi adalah Anda akan mengalami kekhawatiran berlebihan jika anak tak bisa diterima di sekolah favorit saat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Selain itu, menakan anak justru membuat anak lebih banyak menghabiskan waktu untuk nge-game daripada belajar.

Semakin orangtua mengkhawatirkan pencapaian anak dalam hal pelajaran sekolah, maka akan semakin tertekanlah mereka. Bukannya terpacu untuk dapat meraih nilai yang lebih baik, mereka malah menjadi semakin yakin bahwa mereka tak akan pernah sanggup untuk memenuhi harapan orangtua. Anda tak mau kan menyiksa anak Anda dengan perasaan semacam ini? 

Menyuruh Tanpa Memaksa

Memaksa memang cara cepat agar anak menurut. Namun tahukah Anda, Semakin kuat pemaksaan, semakin tumbuh kesadaran lain yang berlawanan, misalnya anak dipaksa belajar, maka tumbuh kesadaran bahwa belajar itu untuk bunda. Sementara pintar itu, ranking itu, untuk ayah. Bila ingin sesuatu dari ayah atau bunda, maka anak berkata, kalau tidak dibelikan itu, aku tidak mau sekolah lagi.

Begini Gaya Parenting Era Milenial

Orangtua di era milenial memang lebih permisif dan mulai menjadi orangtua modern dengan mengikuti berbagai kelas parenting. Yang kemudian menjadikan para orangtua memiliki bekal wawasan dalam mendidik anak.

Kini pola komunikasi (dua arah) pun mulai banyak diterapkan oleh para orangtua. Memang sebaiknya begitu, menghindari komunikasi yang hanya satu arah dari orangtua ke anak berupa nasehat, anak disuruh mendengarkan saja, tak boleh menjawab atau membantah.

Psikolog sekaligus penulis buku Makmun Khairani menuliskan dalam blog pribadinya, bahwa untuk membuat anak bertindak tanpa paksaan, maka buatlah setiap kata suruhan dalam bentuk kata tanya atau ajakan, misalnya, “Nak,…kayaknya sudah waktunya kita belajar, ayo, bunda temani saying.” Atau, “Sayang…….bagaimana baiknya sekarang, kita stop sementara bermainnya, kita ganti dengan sama-sama baca cerita?” Dengan model bahasa seperti ini, anak akan merasa bahwa ayah-bundanya sangat  bersahabat, ananda pun akan mengerjakan yang diminta dengan senang hati, jauh dari paksaan. (Din)

LEAVE A REPLY