Ini yang Harus Dilakukan Orangtua di Masa Tantrum Anak

0
91

Di masa tantrum, anak memang sering melakukan hal yang yang sangat tidak diinginkan orangtua, menangis, berteriak, bergulung-gulung dan lain-lain yang dilakukan di depan umum. Sementara itu, orangtua justru memberinya “hadiah” untuk apa yang dilakukan sang anak. Jika diteruskan akan berdampak buruk bagi perkembangan psikologis anak.

“Hadiah” itu diberikan kepada anak, untuk menghentikan rengekannya. Untuk menenngangkan anak, agar orangtua tidak merasa malu kepada orang sekitar, orangtua kerap member iming-iming sesuatu yang disukai anak dengan syarat sang anak harus berhenti merengek, berteriak ataupun menangis. “Ya sudah, kamu ambil satu permennya. Satu saja ya!, asalkan harus berhenti menangis,”

Sikap orangtua ini dirasa kurang tepat,  karena seolah-olah memberi hadiah terhadap perilaku buruk anak dengan justifikasi menenangkan rengekannya. Saat itulah, anak akan belajar bahwa jika merengek atau menangis, permintaannya akan dituruti orangtuanya. Kemudian ia akan menyiapkan aksi selanjutnya dalam rangka memenuhi permintaannya. Jika sang anak dan orangtua terbiasa melakukan hal yang sama, karakter akan terbentuk dari sang anak. Sampai dewasa, ia akan merasa semua permintaannya harus terlaksana, bagaimanapun caranya, mengerikan bukan?

Solusi: Tetaplah Konsisten

Menghadapi kondisi seperti ini, tetaplah konsisten. Tidak perlu malu atau takut dikatakan sebagai orang tua tega dan kejam. Apabila anak Anda yang sedang menangis atau berteriak-teriak karena marah, kemudian Anda berikan hadiah hanya untuk menenangkan mereka, maka itu sama saja artinya dengan anda menyetujui perilaku buruk yang telah dilakukannya.

Menangis, berteriak-teriak, marah kepada orangtua merupakan suatu perilaku yang sangat buruk dan ini tidak boleh ditanggapi dengan emosi yang positif apalagi berupa hadiah atau bujukan. Cara mengatasinya adalah dengan bersikap tegas. Biarkan saja ananda menangis atau berteriak, toh orang sekitar juga memaklumi karena dia masih anak-anak. Anda hanya perlu menahan diri untuk tidak memberi apapun, juga tidak marah kepada anak. Respon itu, jika terus dilakukan, akan membuat anak berpikir ulang untuk menangis, berteriak atau bergulung-gulung di depan umum, karena caranya sudah tidak lagi efektif utuk “memaksa” orangtuanya memenuhi permintaannya.

Ketegasan orangtua diperlukan. Tegas bukan berarti kasar, tapi konsisten terhadap apa yang sudah diputusi. Jika orangtua sudah berkata “tidak” pada anak, jangan kemudian mengubah perkataan itu menjadi “iya” karena desakan anak.

Orangtua bisa membuat perjanajian kepada anak, jika ia melakukan kesalahan. Pun demikian, jika ia melakukan hal positif, jangan lupa memberikan reward. Tak harus berupa materi, ucapan selamat dan pujian juga merupakan reward bagi sang anak.

Hukuman untuk sang anak, bisa dilakukan dengan menyepakati, jika anak berbuat kesalahan, ada pengurangan jam dari kegiatan yang ia sukai misalnya. Atau dengan cara lain yang sesuai dengan kondisi saat itu. Yang jelas, hukuman akan membuatnya merasa ada kesenangan yang hilang saat ia melakukan kesalahan. Dari situ, ia akan belajar tentang konsekuensi saat berbuat salah.

Tetapi yang perlu diingat adalah, hukuman tidak boleh bersifat ancaman (nada mengancam) atau bahkan kekerasan fisik, karena sangat tidak mendidik bagi anak. Berbagai ancaman justru kebal terhadap ancaman orangtuanya. Suatu saat, ia tidak akan mendengarkan ancaman-ancaman itu. Sementara kekerasan akan membuatnya merasa bahwa orangtua tidak mencintai dan menyanyanginya.

Terakhir, jangan lupa selalu menjelaskan kesalahan apa yang sudah diperbuat dan akibat dari yang telah dilakukan, bagi dirinya dan orang lain, sehingga ananda pun tahu dan berusaha tidak lagi melakukannya. Karena tidak sedikit orangtua menghukum anaknya tanpa ada sedikitpun penjelasan tentang apa yang telah dilakukan, padahal ananda sedang dalam keadaan tidak tahu jika ia melakukan kesalahan. (Din)

LEAVE A REPLY