Ini yang Terjadi Ketika Kakek-Nenek Mengasuh Si Kecil

0
253

Di Indonesia, figur kakek-nenek punya ’tempat’ khusus. Mereka biasanya punya “tugas” merawat cucunya. Itu sebabnya para orangtua muda yang ‘sibuk’ merasa aman mempercayakan pengasuhan anak di tangan mereka. Namun seringkali cara pengasuhan yang berbeda menjadi masalah tersendiri.

Di luar negeri, menitipkan anak pada kakek-nenek pun umum dilakukan, meski waktunya tak seperti pada orangtua bekerja di Indonesia. Seperti yang ditulis tirto.id, angka dari Avon Longitudinal Study of Parents and Children (ALSPAC) mencatat 44 persen anak-anak di Bristol, Inggris Raya, sekarang diasuh secara teratur oleh kakek-neneknya selama 10 jam dalam seminggu.

Tapi, ada beberapa hal yang mungkin terjadi jika kakek-nenek turut mengasuh si kecil, bahkan ketika lebih berperan besar daripada orangtua. Simak fakta berikut yang telah dirangkum dari ayahbunda.co

Membuat Aturan Sendiri

Meski sudah dewasa dan berkeluarga, di mata kakek dan nenek, umumnya anak tetap dianggap anak. Keluarga muda ini dipandang belum berpengalaman merawat dan mengasuh anak. Akibatnya orangtua kerap kali tidak bertanya lebih dulu apa saja aturan yang dibuat oleh putra-putri mereka terhadap cucu-cucu yang masih kecil itu. Kakek dan nenek lalu membuat aturan sendiri. Atau, ada juga yang menanyakan aturan yang dibuat oleh anak, namun tidak diterapkan pada sang cucu karena dirasa terlalu rumit dan sulit. Inisiatif membuat aturan sendiri inilah yang rentan memercikkan api konflik antara kakek-nenek dengan anak.

Konflik Nilai

Setiap generasi punya pandangan dan cara pengasuhan yang berbeda. Perbedaan nilai-nilai yang diyakini, menjadi latar belakang timbilnya konflik.  Anda yakin dan ingin disiplin dimulai sejak dini. Bagi nenek, disiplin bisa diajarkan kelak bila anak sudah betul-betul paham. Bagi Anda, makan sambil nonton TV itu tidak mengajarkan disiplin. Sedangkan bagi nenek dan kakek, yang penting cucu makan dengan gembira dan kenyang. Soal disiplin untuk tertib makan di meja makan bisa diajarkan kelak, karena kesadaran itu akan tumbuh dengan sendirinya.

Toleransi Tanpa Batas

Di mata sebagian kakek-nenek, mengasuh cucu merupakan kesempatan menebus kesalahan yang dulu pernah mereka lakukan selama mengasuh putra putri mereka. Ada juga perasaan lebih bebas dalam mengasuh cucu-cucunya, karena tak lagi dibebani tanggung jawab. Sehingga mereka lebih permisif dan memanjakan para cucu yang lucu-lucu dan pintar itu.

Kesalahan Umum yang Tak Disadari

Stephanie A. Chambers, dkk dalam Jurnal PLOS One 2017 meninjau 56 penelitian dari 18 negara mengenai efek asuh kakek-nenek kepada cucunya. Mereka menemukan fakta bahwa kakek-nenek seringkali kurang mendorong aktivitas fisik anak. Mereka takut cucunya hilang saat bermain di luar. Maka, mereka pun lebih sering mengurung cucu di rumah. Kebiasaan buruk lain yang juga sering dilakukan kakek adalah merokok di dekat cucu mereka.
Sebagai peneliti utama riset, Chambers mengatakan perlu ada kampanye kesehatan khusus yang menyasar pada kakek-nenek sebagai pengasuh anak. Mereka harus diperingatkan sejak dini mengenai bahaya pola asuh yang diterapkan pada kesehatan cucunya. Sebab, gaya hidup buruk sang cucu sangat mungkin dilakukan hingga ia dewasa dan memunculkan ragam penyakit karenanya.

Figur kakek-nenek memang tak bisa dipisahkan dari anak, namun hal yang harus dipahami adalah, sejauhmana pengasuhan kakek-nenek mampu menerapkan gaya parenting yang baik untuk perkembangan anak. Bagaimanapun, sosok ayah-ibu tetaplah dibutuhkan anak. Meskipun orangtua memiliki kesibukan yang tak bisa ditinggalkan, mereka tetaplah buah hati yang membutuhkan figur ayah-ibu lebih daripada nenek-kakek. (Din)

LEAVE A REPLY