Jangan Panik Saat Anak Bikin Onar

0
98

Reaksi orangtua beragam ketika mendengar kabar bahwa anaknya berbuat onar. Ada yang bersiap menghukum anaknya, namun tak jarang menyiapkan diri untuk membela dan menyalahkan yang sedang bermasalah dengan sang anak. Lalu bagaimana sebaiknya sikap orangtua?

Tenang dulu, jangan bertindak berdasarkan emosi. Sikap tenang adalah sikap paling tepat. Karena emosi tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah. Sikap emosional tidak akan pernah bisa melihat dengan jeli sebuah permasalahan. Tentu saja dengan sikap ini, masalah bisa semakin runyam, anak yang akan jadi korban.

Hadapi masalah anak dengan kepala dingin. Jika permasalahannya di sekolah, sebaiknya jadwalkan pertemuan dengan guru terkait, dengan wali kelas atau guru konseling. Ingat, pertemuan orangtua dengan guru bertujuan untuk menemukan solusi yang terbaik. Jadi, jangan langsung sibuk mencari pihak yang bisa disalahkan atau marah-marah ketika kita sebagai orang tua belum paham betul bagaimana duduk perkaranya. Sekali lagi, sikap emosional akan memperparah keadaan, anak yang akan jadi korban.

Membela Si Kecil, Boleh Kok

Mungkin sudah menjadi naluri setiap orangtua untuk melindungi dan membela anak dari tuduhan atau cap yang negatif. Akan tetapi, bukan berarti orangtua harus menyalahkan orang lain dan membenarkan anak setiap saat. Cermati dulu konteks dan situasinya. Cari tahu kenapa anak punya masalah di sekolah, siapa saja yang terlibat, dan seperti apa peran guru-gurunya dalam masalah tersebut.

Kadang, bisa saja anak memang melakukan suatu kesalahan. Meski sulit untuk mengakuinya, orangtua harus bersikap positif dan menjadi teladan bagi si kecil. Jangan malah mendukung anak atas pendapat atau perilakunya yang tidak benar, karena ia akan semakin merasa mendapat persetujuan dari orangtuanya untuk bikin masalah.

Bersikaplah fokus pada anak. Hal ini tidak berarti orangtua membela dan membenarkan anak. Kondisi emosi dan pikiran anak menjadi pertimbangan utama sebelum kita melangkah. Orangtua memang kecewa bahkan marah.

Tetapi merengkuh anak yang sedang terlibat persoalan di sekolah maupun di lingkungan lainnya ke dalam dekapan kasih sayang lebih dia butuhkan. Lagi pula menyelesaikan masalah dalam keadaan marah besar rentan menimbulkan salah paham.

Bangun Komunikasi Baik dengan Guru

Sebagai orangtua, mengawasi perilaku anak itu penting. Namun,orangtua tentu tidak bisa mengawasinya seharian penuh, apalagi saat anak berada di sekolah. Orangtua membutuhkan bantuan guru sebagai pendamping studi anak.

Itulah sebabnya penting untuk membangun komunikasi yang baik dengan guru untuk memantau bagaimana perilaku dan prestasi anak. Dengan begitu, anak lebih mudah untuk menghadapi masalah sekolah. Bahkan, permasalahan bisa diketahui atau dideteksi lebih awal, misalnya saat anak menjadi korban bullying.

Tingkatkan Komunikasi dengan Anak di Rumah

Bila orangtua sibuk dan merasa kurang berkomunikasi dengan anak di rumah, maka sering-seringlah memulai obrolan ringan dengan anak. Tanyakan bagaimana anak menjalani hari-harinya di sekolah, apakah anak mendapatkan kesulitan atau tidak. Bukan cuma membangun kehangatan antara orang tua dan anak, dengan hal ini orang tua juga menjadi lebih tahu berbagai hal yang dihadapi oleh anak. Termasuk bila ia mengalami masalah di sekolah.

Dengarkan dengan baik bagaimana anak menjelaskan duduk permasalahannya, lalu tanyakan pendapat anak bagaimana solusinya. Bila solusinya kurang tepat karena pemikirannya yang masih sederhana, maka beri tahu cara terbaik untuk menyelesaikannya. Ini membantu anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri (problem solving) dan melatih rasa tanggung jawab anak.

Banyak dari kita selaku orangtua yang  melakukan judging (penjurian), untuk menentukan yang mana yang salah dan mana yang benar. Namun orang tua harus bisa menjadi penengah, bukan menjadi juri untuk memvonis. Anak membutuhkan kawan untuk mendampinginya sebagai sahabat yang bijak dalam masalah yang sedang dihadapinya. (Din)

LEAVE A REPLY