Kecerdasan Majemuk, Gali Potensi Belajar Anak

0
134

Mulanya, pemahaman tentang kecerdasan selama lebih kurang 100 tahun hanya terbelenggu pada kecerdasan otak (IQ) saja. Selama ini anak yang dikatakan pandai, bodoh, ideot, embisil dst semata-mata hanya dilihat dari kecerdasan otak. Padahal setiap anak yang terlahir ke dunia memiliki kemampuan dan kecerdasan tersendiri. Untuk mengetahui potensi yang menjadi kelebihan mereka, kita harus dapat menggali potensinya.

Di dalam bukunya Multiple Intelligence,  Howard Garned menyatakan setiap anak memiliki kecerdasan majemuk, bukan satu anak satu jenis kecerdasan. Menurut penelitiannya, ada 9 bentuk tipe kecerdasan anak dalam diri seorang anak yaitu kecerdasan linguistik, kecerdasan logika matematika, kecerdasan fisik, kecerdasan visual sosial, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal dan kecerdasan musik, kecerdasan naturalis, kecerdasan spiritual (SQ) atau kecerdasan eksistensial, dan dalam perkembangannya ada kecerdasan yang ke-10 yaitu kecerdasan moral (EQ).

Setiap kecerdasan tersebut berkaitan dengan bekerjanya salah satu daerah dalam sistem otak manusia. Itulah yang membuat Gardner cenderung mengatakan hal ini sebagai kecerdasan, bukan bakat. Untuk itu, Dr. Gardner mengatakan bahwa kita juga harus memberi perhatian yang sama pada individu yang menunjukkan bakat dalam kecerdasan lainnya: para seniman, arsitek, musisi, naturalis, desainer, penari, terapis, pengusaha, dan orang lain yang memperkaya dunia tempat kita tinggal.

Untuk menggali potensi anak berdasarkan pelajaran favorit kita perlu memahami kecerdasan-kecerdasan yang tertera di atas. Sejak dini terutama di Golden Age, orang tua sudah perlu menyiapkan tempat belajar yang nyaman ketika mereka berada di rumah untuk memupuk kecerdasan.

Maka, dengan begitu sekolah menjadi tempat atau sarana yang sangat penting dalam mengembangkan bakat atau kecerdasan majemuk yang dimiliki oleh anak didiknya.

Untuk itu para guru harus dilatih untuk mempresentasikan pelajaran mereka dengan berbagai cara dengan menggunakan musik, pembelajaran kooperatif, kegiatan seni, permainan peran, multimedia, kunjungan lapangan, refleksi batin, dan banyak lagi.

Marikan kita menggali dan mengembangkan anak kita sesuai dengan bakat dan keinginan mereka, karena setiap anak diciptakan unik dengan kecerdasan yang berbeda-beda. (Yet)

 

LEAVE A REPLY