Kelas Akselerasi Bermasalah, Benarkah?

0
183

Decak kagum anak akselerasi masih bergema di hati masyarakat. Anggapan bahwa anak akselerasi adalah anak superior membuat anak akselerasi begitu dibanggakan. Namun normalkah sesungguhnya anak akselerasi?

Apa Kata Mendikbud Soal Akselerasi? Mengutip dari antaranews.com, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menarik perhatian publik ketika ia berpendapat ada korelasi antara kelas akselerasi dengan kematangan berpikir. “Kelas akselerasi sebenarnya tidak terlalu bagus. Pada beberapa kasus, anak-anak yang berada di kelas akselerasi, gagal pada usia tua,” ujar Muhadjir.

Menurut Muhadjir anak yang mengikuti kelas akselerasi tumbuh secara instan dan tidak mengalami pendidikan kematangan berpikir yang memadai. Dia memberikan contoh beberapa orang mahasiswanya yang merupakan pernah berada di kelas percepatan, namun mengalami perceraian ketika berumah tangga. Penyebab utamanya, karena yang bersangkutan tidak mampu mengendalikan superioritasnya.

Anak Akselerasi Tak Selamanya Menoreh Kesuksesan

Rumahinspirasi.com pernah menuliskan tentang kisah seorang anak pintar karbitan di zaman 1930, (seperti yang dimuat majalah New Yorker pula). Terjadi pada seorang anak yang bernama William James Sidis, putra seorang psikiater. Kecerdasan otaknya membuat anak itu segera masuk Harvard College walaupun usianya masih 11 tahun. Kecerdasannya di bidang matematika begitu mengesankan banyak orang. Prestasinya sebagai anak jenius menghiasi berbagai media masa.

Namun apa yang terjadi kemudian? James Thurber, seorang wartawan terkemuka, pada suatu hari menemukan seorang pemulung mobil tua, yang tak lain adalah William James Sidis. Si anak ajaib yang begitu dibanggakan dan membuat orang banyak berdecak kagum pada beberapa waktu silam.

Masih Debatable

Arnis Silvia, Postgraduate Research Student di University of South Australia, menilai bahwa kecurigaan terhadap kelas akselerasi kurang didasarkan pada temuan riset yang empiris. Setiap kebijakan haruslah berdasarkan kajian sebelum mengambil kesimpulan. Terlebih, tidak ada studi yang menyatakan adanya korelasi antara perceraian anak muda akibat dari kelas akselerasi. Anggapan menteri Muhadjir bahwa perceraian anak muda terjadi karena mereka ikut kelas akselerasi dinilai terlalu berlebihan. “Terlalu prematur untuk menyimpulkan bahwa angka perceraian yg tinggi adalah dampak dari kelas akselerasi,” kata Arnis dalam tirto.id.

Terlepas dari perdebatan baik-buruk akselerasi terhadap perkembangan anak, para orangtua memegang peranan penting untuk mengawasi tumbuh kembang anak. Memang, kepandaian di atas rata-rata adalah suatu kelebihan bagi anak. Namun orangtua tetap harus memasang ‘tameng’ untuk mengontrol anak dari dampak buruk yang mungkin terjadi. (Din)

LEAVE A REPLY