Makan Sahurlah, Karena Membawa Kebaikan

0
104

Kita semua tentu saja sepakat, makan sahur adalah sunnah yang dianjurkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meski demikian, tak mudah melaksanakannya. Rasa kantuk tak jarang mengalahkan semangat kita untuk mengamalkan sunnah itu.

Padahal, selain memberi keberkahan, makan sahur merupakan salah satu hal yang membedakan puasa orang beriman dan ahli kitab.

Rasulullah shallallahi ‘alaihi wa sallam pernah menjelaskan melalui sabdanya, “Beda antara puasa kami dan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim dan Abu Daud).

Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan puasa kepada kaum Muslimin, seperti Dia telah mewajib­kannya kepada Ahli Kitab sebelum Muhammad shallallahi ‘alaihi wa sallam. Mulanya, waktu dan hukumnya sesuai dengan apa yang telah ditetapkan kepada Ahli Kitab sebelum Muhammad, yaitu tidak boleh makan, minum, dan bersetubuh lagi sesudah tidur (selama waktu puasa).

Kemu­dian Rasulullah shallallahi ‘alaihi wa sallam melakukan sunnah makan sahur, lain dari apa yang dilakukan Ahli Kitab yang terdahu­lu. Nabi shallallahi ‘alaihi wa sallam mengistilahkan makan sahur itu dengan Ghidza Al-Mubarak atau makanan yang berkah. Kata beliau. “Mari makan Ghidza’ Al-Mubarak, yaitu makan sahur.”

Makan Sahur Sunnah Rasulullah

Menurut beberapa pengertian, “berkah “ diartikan sebagai langgengnya kebaikan. Makan sahur, merupakan suatu keberkahan, karena mengikuti sunah Rasulullah. Tujuannya, menguatkan orang yang puasa dan menambah semangat orang untuk terus berpuasa karena ringan dan berkurangnya beban yang diderita. Tak hanya itu, Allah juga melipatkan ampunan dan rahmat-Nya kepada orang-orang yang bersahur.

Begitu pula para malaikat-Nya memohon ampunan untuk mereka, memintakan limpahan karunia-Nya. Supaya mereka dibebaskan dari kesempitan akal, kekerdilan hati, kejumudan, dan segala hal yang merugikan dalam bulan Ramadhan.

Mengakhirkan makan sahur juga merupakan hal yang diajarkan Rasulullah, karena Rasulullah dan Zaid bin Tsabit pernah makan sahur, kemudian sesudah sele­sai makan langsung Nabi Muhammad  pergi menunaikan shalat Subuh. Adapun makan sahur seorang Mukmin yang paling utama ialah buah kurma. Sabda, “Sebaik-baik makan sahur seorang Mukmin ialah kurma.”

Namun, bagi yang tidak memiliki makanan sahur, tetap dianjurkan untuk minum meskipun hanya seteguk air. Nabi Muhammad shallallahi ‘alaihi wa sallam menjelaskan, “Makan sahur se­luruhnya berkah, janganlah kalian meninggalkannya Meskipun hanya minum seteguk air, karena Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang bersahur.”

Rasulullah juga bersabda, “Siapa yang hendak berpuasa hendak- bersahur meskipun hanya sedikit.”

Untuk itu, sangat dianjurkan untuk manfaatkan kesempatan mendapatkan pahala besar yang disediakan oleh Allah Yang Maha Rahman dan Rahim buat mereka yang bersahur itu.

Dari Abdullah bin Al-Harits dari seorang laki-laki dari sahabat Rasulullah mengatakan, “Saya pergi menemui Nabi shallallahi ‘alaihi wa sallam sedang makan sahur, lalu Beliau bersabda, “Ia (sahur) suatu keberkahan yang diberikan Allah ke­pada kalian, maka janganlah kalian tinggalkan dia.” (Muf)

 

 

LEAVE A REPLY