Mengajari Mengontrol Emosi Buah Hati di Bulan Suci

0
125

Jika musuh terbesar adalah diri sendiri, maka indikator kemenangan pertama adalah kemampuan mengontrol emosi. Bulan suci, adalah bulan yang tepat untuk mengajari sang buah hati untuk mengontrol emosi.

Emosi bukan dominasi orang dewasa. Anakpun demikian jika dihadapkan sesuatu yang membuatnya tak nyaman. Orangtua perlu mendampingi anak untuk melakukan kontrol emosi saat menghadapi situasi ini. Mumpung masih Ramadhan, belum terlambat untuk mengajarkan ananda mengontrol emosinya.

Ramadhan menjadi momen terbaik untuk mengajari anak mengontrol emosinya. Karena, anak tak mungkin terlepas dari situasi yang tak nyaman meski bulan Ramadhan. Daam suasana tidak nyaman inilah, orangtua bisa mengajarkan sesuatu kepada ananda.

Di bulan yang banyak mengekang hal-hal yang biasanya diperbolehkan ini, sedikit banyak akan membuat anak Anda akan mendapati situasi yang membuatnya tak nyaman. Jika biasanya anak bisa makan dengan seenaknya, bulan ini tidak boleh. Selain itu, banyak waktu-waktu tambahan yang mereka harus rela meluangkannya, seperti saat sahur, atau saat tarawih.

Dalam situasi-situasi yang tak nyaman seperti ini, emosi anak akan dengan mudah terganggu sebagai bentuk ekspresinya menanggapi situasi tersebut. Anak terkesan sangat ekspresif dalam menanggapi sesuatu hingga terkadang dia lepas kendali dalam mengekspresikan emosinya. Agar tidak lepas kendali, anak perlu diberi stimulasi tertentu agar mampu mengontrol dirinya saat berada dalam situasi yang tak membuatnya nyaman.

Menurut psikolog anak Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi. cara untuk membantu anak dalam mengontrol emosinya bisa dilakukan dengan cara berikut :

Jangan “Mematikan” Emosi Anak

Anak terkadang tidak paham mengapa mereka sedih atau bahagia. Kebanyakan orangtua cenderung mematikan emosi mereka, bukan membantu mereka dalam mengenali emosi mereka. Contohnya, saat mereka menangis. Orangtua akan terkesan mengatakan,”Sudah, jangan menangis.” Pernyataan seperti ini justru akan membuat mereka tidak paham kenapa mereka menangis, membuat mereka tidak paham emosi yang ada dalam diri mereka.

Bantu Anak Memahami Emosi Mereka

Setelah orangtua mampu mengurangi cara mereka agar tidak mematikan emosi anak, langkah selanjutnya kenalkan anak tentang emosinya. Mengapa anak mengekspresikan emosi tersebut dengan menangis, marah, atau tertawa. Ketika dia marah, coba tanyakan kepadanya,”Kamu marah karena apa?” Dengan begitu, orangtua akan tahu apa yang membuatnya marah. Dengan mengetahui penyebab kemrahannya, orangtua bisa memberi solusi untuk ananda.

Namun yang sering terjadi, jika anak marah, orangtua akan membalas kemarahan dengan porsi marah yang lebih besar. Jika demikian, selain anak tidak akan mendapatkan solusi dari kemarahannya, ia justru akan belajar menjadi pemarah dari orangtuanya.

Tawarkan Solusi Agar Emosi Anak Meredam

Kemudian, setelah kita membantu anak akan motif tiap emosi yang dia ekspresikan, tawarkan kepadanya solusi agar emosi anak teredam. Yakinkan bahwa Anda pasti membantunya dalam menyelesaikan masalahnya agar emosi anak teredam. Seperti contohnya, ”Nak, kamu menangis karena bukumu hilang ? Nanti ayah bantu carikan bukunya. Kalau sudah ketemu jangan nangis lagi ya.”

Bulan Ramadhan adalah bulan yang tepat untuk belajar mengontrol emosi. Tidak hanya untuk ananda, terlebih untuk orangtua. Keteladanan tentu saja diperlukan. Jika orangtua tidak bisa mengontrol kemarahannya, jangan harap anak akan bisa mengontrol kemarahannya.

Perubahan serinngkali membutuhkan momentum. Bulan Ramadhan adalah momentum yang sangat tepat. Beri anak pengertian bahwa di bulan Ramadhan tak hanya kita menahan keinginan untuk makan dan minum saja, tapi juga menjaga emosi, menjaga perkataan, dan menjaga segala hal yang menjurus ke perbuatan buruk.

Bantulah anak agar dia tidak terpengaruh lingkungan-lingkungan luar yang negatif dan membuatnya dapat melakukan hal-hal yang buruk, karena menurut Vera, masa pertumbuhan karakter dan emosi anak dimulai dari 5 tahun hingga remaja. Berilah imunitas bukan sterilitas. Agar ia dapat mempengaruhi lingkungannya, bukan malah terpengaruh lingkungan. Lagi-lagi, peran orangtua sangat-sangat besar untuk membentuk karakter anak. Jika ingin anak menjadi baik, orangtua harus berupaya menjadi baik. Jika ingin anak terkontrol emosinya, orangtua harus terlebih dulu melakukannya. (ipw)

 

LEAVE A REPLY