Mengajarkan Adab dengan Non Mahram pada Anak

0
86

Era teknologi ini, kemungkinan berinteraksi dengan orang-orang di luar mahram semakin tinggi.  Meski demikian, adab terhadap non mahram tetap harus diperhatikan. Bagaimana mengajarkan adab kepada yang bukan mahramnya?

Mahram menurut Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim mendefinisikannya sebagai sebagai setiap wanita yang haram untuk dinikahi selamanya, sebab sesuatu yang mubah dan statusnya yang haram. Mungkin, Ananda tidak akan mengerti hal sedetail ini. Oleh karenanya, orangtua harus memberi pemahaman sederhana tentang mahram dalam lingkup keluarganya terlebih dahulu.

Terkadang, Ananda memang ada dalam masa-masa bahagianya. Senang berinteraksi dan terbuka kepada siapapun. Namun, menjaga Ananda dari bersentuhan dengan yang bukan Mahram jauh lebih penting. Karena, konsekuensi berinteraksi langsung dengan yang bukan Mahram cukup berat. Seperti yang tertuang dalam Hadits Riwayat Ath-Thabrani yang berbunyi, “Ditusuknya kepala seseorang dari pasak besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.”

Maka dari itu, mengajarkan Ananda perihal Mahram perlu diawali dari rumah. Berikut, cara sederhana mengajarkan Ananda perihal Mahram.

Buat Media Sederhana

Ananda perlu diberi pemahaman sederhana tentang konsep Mahram. Jangan langsung melarangnya. Di dalam rumah buatlah tabel atau diagram sederhana yang menunjukkan mana saja yang Ananda diperbolehkan untuk berinteraksi langsung seperti berjabat tangan, apalagi berpelukan,  dan saling gendong, atau aktivitas lainnya. Jelaskan dengan bahasa yang bisa  dimengerti oleh ananda. Karena jika hanya sekadar melarang, akan membuat ananda semakin bingung, dan justru menentangnya untuk melanggarnya.

Melalui media diagram atau table, Ananda akan lebih mudah menangkap dan mengingat konsep secara visual daripada hanya secara verbal, seperti kata Putu Andani seorang psikolog Anak dan Remaja dalam Talkshow Mother & Baby Fair, “Anak sangat mudah menyerap dan memahami informasi melalui gambar.”

Orangtua adalah Teladan

Tidak bisa tidak, orangtua juga memegang peran penting dalam mengajarkan Ananda. Bahkan, perihal seperti mengajarkan konsep Mahram pada Ananda. Oleh karenanya, orangtua harus menjadi teladan bagi Ananda dalam beradab interaksi dengan orang-orang yang bukan Mahram mereka.

Ratih Zulhaqqi, seorang psikolog Anak dan Remaja dari RaQQi – Human Development & Learning Centre berpendapat bahwa anak seringkali belajar dengan melihat, learning by doing, children see children do. Oleh karenanya, orangtua harus menjadi teladan yang baik agar Ananda belajar dari orangtuanya.

Kemudian, dengan menerapkan cara-cara tersebut dan membiasakannya berinteraksi sesuai adab yang diajarkan Islam bukan tidak mungkin kalau Ananda akan terhindar dari dosa ber-ikhtilath (bercampur baur dengan lawan jenis) yang konsekuensinya cukup berat meski yang mengakibatkan datangnya konsekuensi tersebut terlihat ringan dan sepele.(ipw)

LEAVE A REPLY