Sekolah, belajar, adalah salah satu cara merubah nasib, demikian kutipan yg saya ingat dr seorang Renald Kasali.

Menurut saya, belajar, bukan hanya sekedar merubah nasib, tapi lebih dr itu, akan menentukan perjalanan hidup seseorang, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Bukan cuma dirinya, tapi juga orang dekatnya, anak mereka, orang tua mereka.

Krn pendidikan yg menyeluruh, mestinya mempersiapkan anak utk hidup baik di dunia maupun akhirat nanti. Inilah alasan pertama saya mengapa Saya memilih SIT untuk anak-anak saya. Krn di SIT, anak tidak hanya dikembangkan aspek akademik-nya, tapi juga aspek spiritual dan mental-nya. Itu makanya di SIT, Pendidikan Agama Islam memiliki porsi yg lebih banyak dibanding sekolah lainnya. Di SIT ada pelajaran Al Quran yg mengajarkan anak membaca dan menghafal Al Quran. Jadi sejak dini anak sdh diajarkan berkomunikasi dg Tuhan-nya. Mereka juga diajarkan sejarah para Nabi, khususnya Nabi Muhammad SAW. Inilah metode pembelajaran dalam Quran, menceritakan kpd kita masa lalu untuk diambil pelajarannya.

Alasan Kedua, di SIT ada program pengembangan karakter, soft skill. Sebagaimana kita tau, bhw soft skill ini yg sangat menentukan kesuksesan seseorang. Program soft skill yg ada di SIT dimulai dr program pembentukan karakter yg dilaksanakan tiap pekan, ada program sosial utk membantu sesama yg mengalami musibah, baik skala nasional maupun international. Dan yg utama adalah di SIT ada kegiatan Pramuka, salah satu kegiatan di sekolah yg memiliki lembaga atau tautan hingga ke tingkat internasional, shg anak-anak dibangun wawasannya utk berpikir secara global.

Alasan ketiga, biaya sekolah yg cukup tinggi, bukan mahal ya. Karena mahal atau murah adalah relatif. Buat orang yg memiliki kelebihan harta, biaya di SIT itu murah. Biaya tinggi, beda dg mahal. Mahal belum tentu bagus, tapi biaya tinggi mencerminkan bahwa di sekolah tsb memang ada program yg sudah dirancang utk periode waktu tertentu. Ini tentu beda dg sekolah yg berbiaya rendah dan tidak memiliki program. Tapi buat saya bukan cuma itu ketika bicara biaya, menurut saya, semakin besar biaya yg saya keluarkan utk anak saya, berarti sebesar itulah rejeki anak saya, sebesar itulah rejeki yg akan Allah SWT berikan kepada saya. Saya sadari bhw bertambahnya rejeki saya ketika bertambahnya anak saya, maka itu adalah rejeki anak saya, dan saya harus menunaikan kepada anak saya. Disamping itu, berapapun biaya yg dikeluarkan orang tua, tdk sebanding dg hasil yg didapat. Manalah bisa kita membandingkan uang ratusan juta dibandingkan dg memiliki anak yg hafiz Quran, cerdas dan mandiri. Jadi, ketika kita melihat biaya yg tinggi, lihatlah hasilnya. Allah akan menyediakan mimbar dr cahaya buat orang tua yg memiliki anak yg hafizh Quran.

Alasan Keempat, ada teori bahwa tidak mungkin seseorang memberi sesuatu jika ia tidak memiliki sesuatu, begitulah sejatinya seorang guru. Jd guru harus terus dibina agar bisa melaksanakan tugas mendidik dg baik. Nah sepanjang yg saya ketahui, utk menjadi guru di SIT ada syarat khusus terkait dg kepribadian, skill, spiritual dan sosial. Dan semua itu terus dibina sepanjang ybs menjadi guru di SIT. Jadi insyaAllah tidak ada kekhawatiran ketika kita melepas anak kita di SIT.

Ketika banyak yg bilang gaji guru di SIT kecil, sekali lagi kita bicara tentang relativitas, sesuatu yg standarnya masih kabur. Buat kita gaji segitu kecil, tapi buat mereka berkah. Dari mereka kita belajar tentang keikhlasan. Kita belajar bahwa bekerja bukan sekedar mencari nafkah, tapi keberkahan yg bisa mengantarkan mereka pada kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Tahni’ah dan terima kasih saya sampaikan kepada semua pihak yg telah menggagas lahirnya konsep semacam ini.

Sahroni
Orang tua yg sdh memiliki 1 anak hafiz Quran, dan calon hafiz Quran pada anak kedua.

ditulis di kompasiana : https://www.kompasiana.com/thiazulfa/59bb32592d622c30ba03bcb2/pendidikan-agama-islam-penting-bagi-anak-didik

tinggalkan komentar