Pilih Sekolah yang Sesuai dengan Kebutuhan Anak

0
120

Dalam memilih sekolah, orangtua seringkali punya dominasi sangat tinggi. Padahal jika anak tidak nyaman dengan sekolah itu, akibatnya bisa kontraproduktif. Dalam memilih sekolah, anak seharusnya juga dilibatkan.

Hal itu dikatakan Seto Mulyadi, seorang psikolog yang juga Ketua Umum Nasional Perlindungan Anak. Ia mengatakan bahwa anak  seharusnya diberikan hak bersuara untuk menentukan sekolah yang menyenangkan baginya untuk belajar dan bermain. “Anak-anak harus dilibatkan. Biarkan mereka melihat situasi sekolahnya dan pola belajar di sekolah itu,” kata Kak Seto.

Menurut pria yang sering dipanggil Kak Seto itu, di tengah pilihan sekolah yang beragam dengan program unggulan yang bermacam-macam pula, anak bisa menjadi indikator utama mengenai sekolah yang tepat atau tidak bagi kebutuhan anak. Sebaik apapun sekolah yang dituju oleh orangtua, jika anak tidak menyukai pola pengajaran yang ada di sekolah tersebut maka dampaknya tidak akan baik. Di lain hal ia mengatakan bahwa pemilihan tempat pendidikan harus didasari oleh keinginan anak. “Orangtua harus menghormati keinginan anak,” paparnya..

Menurut Seto, dalam pemilihan tempat pendidikan, pihak orangtua jangan hanya mengejar kualitas dan keunggulan semata tetapi juga mempertimbangkan faktor kebutuhan anak.

“Jangan sampai si anak merasa terpaksa, bosan, dan takut,” tambahnya lagi.

Sebelum menjatuhkan pilihan, para orangtua wajib mengetahui secara jelas mengenai visi, misi dari program pendidikan yang ditawarkan. Pengetahuan ini dinilai penting untuk membantu orangtua mempercayakan perkembangan anak baik secara fisik maupun psikologis, jelasnya.

Lelaki kelahiran 28 Agustus 1951 itu menambahkan bahwa peraturan sekolah juga mempengaruhi keinginan anak untuk memilih sekolah. “Yang kedua adalah peraturannya. Jangan memilih sekolah yang membebaskan anak boleh melakukan apa saja. Anak hanya boleh dibebaskan jika kondisi sekolah aman,” ujar Seto.

Aspek lain menurut Seto adalah guru-gurunya. Hal ini karena guru adalah pendidik anak yang bertanggung jawab saat anak berada di sekolah. Lihat pula apakah ada penanggung jawab saat anak pergi ke toilet atau melakukan aktivitas di luar kelas.

“Yang tak kalah penting adalah harus adanya komunikasi efektif antara orangtua dan pihak sekolah. Bisa dengan pertemuan teratur yang diadakan sebulan sekali misalnya,” ucap alumnus program doktoral psikologi Universitas Indonesia itu. (Aby)

 

LEAVE A REPLY