Sejarah Yayasan Asy-Syaamil Bontang

Adalah Isro Umarghani, Sudihardi dan Ma’ruf Efendy. Tiga sekawan ini sudah berkarib sejak 90-an. Isro dan Sudihardi bekerja  sebagai  profesional  di  perusahaan  Pupuk Kaltim, sementara Ma’ruf menjabat kepala sekolah di sebuah SMP Islam swasta di Bontang-Kaltim. Meskipun berlainan tempat kerja, mereka menjadi akrab karena dipersatukan oleh visi hidup yang sama; dakwah

Suatu  hari  di  tahun  2003,  sehabis mengikuti kajian rutin, mereka mendiskusikan kemungkinan mendirikan lembaga pendidikan Islam Terpadu. Ide tersebut berangkat dari pemikiran bahwa pendidikan adalah pintu masuk paling efektif untuk melakukan perubahan secara fundamental, menyiapkan generasi   terbaik   di   masa   depan.   Karena itu    dalam    pemikiran    ketiganya    sekolah yang hendak mereka dirikan nanti bukan sekolah    biasa,    tetapi    sekolah    unggulan yang    merepresentasikan    nilai-nilai    Islam yang murni tanpa harus menanggalkan keunggulan akademik. Selain itu, salah satu dari tiga sekawan tadi yaitu Sudihardi sudah pengalaman mengelola Taman Pendidikan Al Quran serta Taman Kanak-Kanak.

Pasca pertemuan tersebut mereka melakukan survei ke salah satu sekolah Islam di Samarinda, yang sudah berdiri     3     tahun     sebelumnya.     Dalam amatan mereka, sekolah tersebut sangat cepat berkembang untuk sebuah lembaga pendidikan yang baru berusia 3 tahun. Tak berlebihan  jika  perkembangan  yang  cepat itu termasuk prestasi yang spektakuler. Apa faktor keunggulannya, bagaimana strategi untuk bisa bersaing dengan sekolah lain, seperti apa manajemen dan kurikulumnya? Pertanyaan-pertanyaan penting itulah yang menjadi pusat kajian ketiganya dalam survei yang singkat itu.

Pasca kunjungan itu diundanglah sejumlah orang  yang  dianggap  concern  dalam  dunia pendidikan    yang    akan    dilibatkan    dalam pendirian  yayasan.  Empat  belas  orang  hadir dalam  pertemuan  tersebut,  antara lain: Isro Umarghani,  M  Ridwan,  Rafiansyah,  Ardi Sofyan, dan Abdul Kholiq, Nadlif Ridwan, Dedi Kurniadi, Saeful Rizal, Abdul Malik, Turmudzi, Endang Kurniawan, Agus Budianto, Makruf Effendy, Sudihardi, dan Isro Umarghani.

Salah   satu   hal   penting   yang   menjadi titik  pusat  diskusi  adalah  ihwal  nama yayasan. Ada beberapa nama yang muncul, antara  lain  Al-Quds,  Qordoba.  Sementara Isro mengusulkan nama Asy Syaamil.

Isro menjelaskan Asy-Syaamil berasal dari kata Syumul   yang   artinya   komprehensif   atau lengkap.

Dalam pandangan H. Isro Umarghani ” Lembaga pendidikan yang hendak didirikan harus memiliki   visi   mencetak   SDM   yang   tidak hanya cakap secara intelektual, akademik, tetapi juga akhlak, iman”.

Pada 7 Februari 2003 bendera Asy- Syaamil pun mulai berkibar. Dalam akta notaris tertulis Yayasan Asy-Syaamil Bontang. Nama yayasan itu pula yang disematkan sebagai nama sekolah pertama, yaitu Sekolah Dasar Islam Terpadu atau disingkat SD IT Asy-Syaamil. Kelak, Yayasan Asy-Syaamil membuka jenjang TK, SMP hingga SMA dengan nama yang berbeda, juga payung yayasan yang berbeda sebelum akhirnya dimerger pada 2016.

Di sebelah Mesjid Al Furqon Pupuk Kaltim ada beberapa ruangan kosong yang biasanya digunakan untuk tidur pengurus masjid atau rapat pengurus masjid. Para pengurus Asy- Syaamil meminta izin kepada pengurus Masjid Al Furqon untuk memanfaatkan dua ruangan tersebut  untuk  ruang  kelas.  Alhamdulillah, izin pun turun. Lantas ruangan itu pun disulap menjadi  kelas.  Di  dua  ruangan  sederhana itulah Asy-Syaamil memulai catatan sejarahnya yang paling berharga, yaitu ketika ide, visi, misi dan cita-cita para pendirinya mulai dijalankan.

Dalam semua jenjang sekolahnya, Asy- Syaamil mengadopsi konsep Sekolah Islam Terpadu (SIT) yang desain oleh lembaga JSIT. Konsep inti SIT adalah menghidupkan fitrah manusia dengan menyelaraskan potensi spiritual, emosional dan intelektual anak didik dengan memposisikan keluarga sebagai poros utamanya. Dengan kata lain, tanggung jawab pendidikan anak tetap bertumpu pada pundak  orang  tua,  posisi  sekolah  adalah mitra.

Sekolah Islam Terpadu pada hakikatnya adalah sekolah yang mengimplementasikan konsep pendidikan Islam berlandaskan Al-Qur’an dan As Sunnah. Konsep operasional SIT merupakan akumulasi dari proses pembudayaan, pewarisan dan pengembangan ajaran agama Islam, budaya dan peradaban Islam dari generasi ke generasi. Istilah “Terpadu” dalam SIT dimaksudkan sebagai penguat (taukid) dari Islam itu sendiri. Maksudnya adalah Islam yang utuh menyeluruh, Integral, bukan parsial, syumuliah bukan juz’iyah. Hal ini menjadi semangat utama dalam gerak da’wah dibidang pendidikan ini sebagai “perlawanan” terhadap pemahaman sekuler, dikotomi, juz’iyah

Dalam aplikasinya SIT diartikan sebagai sekolah yang menerapkan pendekatan penyelenggaraan dengan memadukan pendidikan umum dan pendidikan agama menjadi satu jalinan kurikulum

Tanpa  perlu  promo  besar-besaran,  anak-anak hasil didikan Asy-Syaamil seperti brosur berjalan. Tanpa sengaja mereka telah menjadi brand ambassador yang turut  mempromosikan kualitas hasil didikan Asy-Syaamil, Hasilnya,  pada  tahun  kedua murid bertambah. Namun dalam waktu bersamaan, para pengurus dihadapkan pada persoalan yang sama, yaitu ketiadaan ruang kelas baru. Sebetulnya, sejak tahun pertama   pengurus   Asy-Syaamil sudah berikhtiar untuk menyiapkan gedung milik sendiri dengan membeli sebidang tanah. Tetapi seperti kata pepatah, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, mereka tertipu oleh makelar tanah. Dan uang down paymen 17 juta pun raib tak tentu rimbanya.

Toh  kejadian  tak  mengenakkan  itu tak   menyurutkan   ikhtiar   Asy-Syaamil, menjelang tahun kedua mereka  melirik kompleks gedung milik PT Badak LNG, gedung itu pernah digunakan sebagai peternakan ayam potong, namun sudah beberapa lama mangkrak. Berdiri dikawasan seluas lebih kurang 1/2 hektar, lingkungannya cukup representatif untuk mendukung aktivitas sekolah. Memang  kondisi  gedungnya  tampak  kurang layak untuk ruang belajar. Berdinding kayu, beratap asbes yang tentu saja membuat ruangan terasa panas di bawah matahari yang menyengat langit Bontang.

Tapi tiada rotan akar pun jadi. Setelah dilakukan pembenahan sana-sini jadilah ruangan-ruangan itu tempat belajar yang ramah untuk kegiatan belajar mengajar.

Di luar dugaan, ternyata pihak PT Badak mengamati perkembangan Asy-Syaamil yang terbilang moncer itu. Yayasan milik PT Badak sebetulnya sudah beberapa tahun sebelumnya berusaha mendirikan sekolah Islam tetapi entah mengapa ide tersebut selalu gagal direalisasikan. Padahal, PT Badak sudah menginvestasikan sebidang tanah plus modal pembangunan  gedung  sekolah  sebesar  Rp 2-miliaran.

Singkat cerita,  Yayasan  PT  Badak tertarik melakukan kerja sama dengan Asy-Syaamil. Skema kerja samanya adalah; PT Badak menyediakan lahan dan bangunan gedung, Asy-Syaamil bertugas mengelola operasional pendidikannya.   Saat   itu   Asy-Syaamil   juga mencarikan bantuan dana dari pemerintah daerah Kota Bontang sebesar 500 juta. Dan pada 2005 peletakan batu pertama pun dilakukan, dihadiri General Manager PT Badak dan Walikota Bontang saat itu, Sofyan Hasdam

Namun       belakangan       Ustad Isro Umarghani       terkejut setelah diberitahu konsep bangunan yang direncanakan   sebagai   sekolah   Asy-Syaamil itu.  Bangunan  itu  dikonsep  secara  megah dan   dibangun   sekaligus;   terdiri   dari   tiga gedung  dengan  masing-masing  tiga  lantai. Total dana yang diperlukan 18 miliar. Besaran dana itu tentu saja membuat pengurus Asy- Syaamil  gamang.   Dari  mana  mendapatkan uang sebanyak itu dan berapa tahun lagi akan terpenuhi? Padahal setiap tahun Asy-Syaamil butuh gedung baru. Tampaknya kerja sama itu belum ditakdirkan untuk menjadi bagian penting dalam sejarah Asy-Syaamil selanjutnya. Singkat cerita, rencana kerja sama itu pun berakhir di tengah jalan.

Lantas bagaimana cerita epik selanjutnya? Di sela proses kerja sama dengan Yayasan PT Badak tersebut, Asy-Syaamil, lewat Ma’ruf Effendy, memperoleh info ihwal lahan yang hendak dijual. Luasnya 5000 M2   dengan harga per meternya Rp 100 ribu. Antara Asy-Syaamil dan pihak pemilik lahan pun sudah terjadi kesepakatan jual  beli  lahan  dengan total nilai Rp 500 juta yang akan dibayar secara bertahap. Lewati perantara penjual tanah, Asy Syaamil menyerahkan uang pembayaran tanah yang pertama sebesar Rp 125 juta. Namun Allah punya kehendak lain. Tanah tersebut tidak dijual!

Sang pemilik tanah sendirilah yang menemui Makruf Efendi dan menyatakan bahwa tanahnya tidak jadi dijual: “Jika untuk sekolahnya Pak Isro dan Pak Makruf, lahan itu tidak saya jual, tapi saya hibahkan.”

Ini tentu saja kabar yang menggembirakan, anugerah yang sungguh indah dari Yang Maha Indah.     Para     pengurus     Asy-Syaamil pun semakin yakin jika sebuah pekerjaan dialasi niat yang ikhlas dan lurus, maka Allah membukakan  berbagai  jalan  dari  arah  yang tak   disangka-sangka.   Keyakinan   ini   tentu saja   hanya   dimiliki   oleh   individu-individu yang sudah selesai dengan dirinya dalam pengertian, ia tidak hanyut dalam keasyikan berburu harta, benda, pangkat dan kedudukan tetapi semata berkhidmat memenuhi perintah Allah. Dan Asy-Syaamil beruntung memiliki pengurus-pengurus yang seperti itu.

Namun  demikian,  tantangan  akan  selalu ada. Jadi meskipun lahan sudah ada dalam genggaman, tidak serta-merta di atasnya siap didirikan bangunan. Lahan itu bekas rawa-rawa sehingga kondisinya lembek dan curam. Untuk bisa didirikan bangunan di atasnya, harus diuruk terlebih dulu. Maka pada tahun 2006 dimulailah proses pemadatan lahan yang menghabiskan tak kurang 500 truk material tanah urug.

Ihwal proses pemadatan lahan itu juga mengandung  keajaiban  lain.  Jika  dikonversi ke dalam rupiah, dengan asumsi harga tanah per truknya Rp 200 ribu, maka setidaknya dibutuhkan biaya Rp 100 juta. Proses pengurugan dan pematangan lahannya sendiri memakan waktu sekitar 3 bulan. Dari mana memperoleh dana sebesar itu dalam waktu singkat, ketika saat yang sama Asy-Syaamil masih disibukkan dengan urusan operasional sekolah yang membutuhkan dana besar? Alhamdulillah, mayoritas biaya pengurukan tersebut   diperoleh   dari   sumbangan   wali murid.   Dengan   kesadaran   sendiri   mereka bahu membahu menyisihkan sebagian harta untuk  sebuah  visi  pendidikan  yang  mulia. Turun tangannya para wali murid itu sekaligus menandai posisi Asy-Syaamil sebagai lembaga pendidikan yang berhasil meraih simpati masyarakat—tidak dengan slogan yang bombastis namun jauh dari fakta—tetapi dengan kerja dan bukti nyata.

Karena keterbatasan finansial, pengurus memulai membangun masjid yang diberi nama Ulul Albaab, dengan harapan bangunan tersebut bisa   termanfaatkan   secara   maksimal,   bisa untuk kelas, kantor, dan tempat sholat. Konsep pembangunannya pun bertahap disesuaikan dengan ketersediaan dana. Alhamdulillah, di atas lahan itulah kelak berdiri kompleks SD IT Asy-Syaamil plus masjid yang biasa digunakan untuk kegiatan keislaman siswa.

Asy-Syaamil dan gedung seolah menjadi kisah tersendiri yang mewarnai perjalanan Asy- Syaamil. Setiap tahun selalu muncul tantangan menyiapkan gedung baru.

Kerja kolaboratif itu tak mengingkari hasil. Setidaknya ini bisa dilihat dari tingginya animo masyarakat   untuk   menyekolahkan   anaknya di Asy-Syaamil. Hingga mulai angkatan ke-3 (tahun 2006-2007) Asy-Syaamil terpaksa harus menutup pendaftaran lebih cepat karena jumlah calon siswa baru sudah mencapai kuota. Saat itu, keputusan ihwal berapa jumlah murid yang akan diterima memang tergantung pada kesiapan lokal belajar.

Alhamdulillah,  kini  setelah  16  tahun berdiri,   Asy-Syaamil   mendidik   2115   siswa, dan masih harus menambah ketersediaan ruang, baik untuk ruang kelas maupun ruang asrama. Setiap tahun, jumlah murid masih terus bertambah terutama jenjang SMP dan SMA. Pendaftaran murid baru biasanya sudah ditutup 6 bulan sebelum dimulainya tahun ajaran baru. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengantisipasi penambahan tenaga pengajar atau sarana lain yang diperlukan.

*tulisan disalin dari buku 2 WINDU BERSAMA ASY SYAAMIL